SUARA SEMARANG - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah serius untuk pengembangan kota pintar dan kewilayahan di Jawa Tengah. Mulai tepikan langkah-langkah manual, Badan Riset pelat merah ini mulai menggunakan teknologi.
Dalam pengembangannya, BRIDA Jateng bekerjasama dengan sejumlah periset. Tak hanya dari Jawa Tengah dan Indonesia, beberapa periset dari luar negeri. Diantaranya dari Malaysia, India, Bangladesh hingga Nigeria.
Kontribusi puluhan periset ini dituangkan dalam seminar internasional yang mengambil tema Aplikasi GIS dan Penginderaan Jauh untuk pengembangan Kota Pintar dan Wilayah di Era Pasca Pandemi.
Kepala BRIDA Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Arief Irwanto mengatakan paper tersebut sesuai dengan persoalan-persoalan kewilayahan yang ada di Jawa Tengah. Mulai dari persoalan pertanian, kebencanaan, tata ruang hingga masalah permukiman.
"Dengan riset dan teknologi maka memungkinkan data-data yang dijadikan dasar pengambilan kebijakan lebih presisi. Basis pemetaan dengan citra satelit misalnya memungkinkan cakupan lebih luas. Pemetaan manual rasanya sudah tak memungkinkan serta menghabiskan banyak waktu dan biaya," kata Arief di sela-sela Seminar Internasional yang digelar di Hotel Solo Paragon, Rabu 20 September 2023.
Total ada 73 paper dari 173 paper yang telah dipilih oleh Brida Jateng yang kemudian di diseminasikan dalam seminar internasional.
sejumlah peneliti dari beberapa perguruan tinggi di berbagai negara. Prof Josaphat TS Sumantyo (Chiba University Jepang), Dr Soheil Sabri (Melbourne University Australia), Dr K Hisyam bin kamarudin (University of Technology Malaysia), Prof Imam Buchori (Universita Diponegoro Indonesia).
Betapa pentingnya pemetaan kewilayahan salah satunya dicontohkan Arief soal pemenuhan bahan pangan untuk penduduk. Untuk menangani ketahanan pangan maka butuh data tata ruang. Jika saat ini panen 6 ton/ha bisa jadi akan kurang untuk tahun-tahun depan. Alasanya jumah penduduk terus meningkat.
Begitu juga dengan manajemen disaster juga diperlukan data yang tepat untuk dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan penanggulangannya.
"Hasil riset ini didiseminasikan dan ada pembahasan di kelompok-kelompok kecil. Selanjutnya akan di breakdown di masing-masing OPD (Organisasi Perangkat Daerah)," lanjutnya.
Ketua Pelaksana Seminar Internasional, Akmal Afif mengatakan seminar tersebut rutin dilaksanakan dan ini adalah yang kelima. Tujuannya mewujudkan peta satu data di jateng
Total ada 173 paper yang diterima dari Indonesia dan berbagai negara. Kemudian dipilih 73 paper, diantaranya ada 43 penelitian periset di Jawa Tengah.
Dalam paparannya Prof Josaphat TS Sumantyo dari Chiba University Jepang mengatakan saat ini masih ada 25 juta bidang tanah di Indonesia belum terukur dan 85 juta bidang belum terdaftar. Untuk mempercepat pendataanya maka diperlukan teknologi. Salah satunya dengan synthetic aperture radar untuk pemetaan dengan karakteristik resolusi tinggi.***