Memulai bisnis sejak tahun 1989 dengan modal pemberian jaminan oleh orag tuanya untuk pinjaman dari bank Rp 1 juta.
Uang itu untuk beli alat mesin potong gunting serta las dan gerinda, yang lainnya seperti bahan plat besi.
“Alhamdulillah berjalan, memang di daerah kita dulu belum begitu banyak perajin bermunculan. Saat itu empat atau lima personel. Orang sini pertama kali pak budianto dan pak sumanto,” kata dia.
Berjalannya waktu Supriyanto jadi salah satu saksi sejarah betapa riuhnya perkembangan Pande Besi di kampung halamannya itu.
Dari mulai hitungan jari, kini usaha Pande Besi menjamur di dua desa yakni Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, dan Dusun Karangpoh, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.
“Sekarang ada 40-an pelaku usaha UMKM yang tergabung di koperasi, lainnya ada 30 orang. Jadi total sekarang ada sekitar 70 an UMKM Pande Besi,” kata dia.
Supriyanto juga mengenang saat dirinya kecil sudah ada Pande Besi di desanya namun masih dengan cara tradisional.
Saat listrik masuk desa sekira tahun 1985 di mana Menteri Penerangan saat itu yakni Harmoko, Pande besi mulai menggunakan alat semi modern.
Seiring perkembangan waktu, orderan yang didapatkan Supriyanto cukup banyak, hingga mampu menambah pekerja.
“Perjalanan waktu tahun 90-an kita belum ada barang sudah di DP (uang muka) sama bakul, Alhamdulillah berjalan,” kata dia.
Misalnya pada tahun 1993 itu dapat orderan dari Surabaya yang meminta dalam waktu setengah bulan 6.000 cangkul.
“Cuma kita keterbatasan alat hingga hanya mampu produksi 4.000 cangkul,” kata dia.
Sementara itu pasar lokal langganan Supriyanto berasal dari Kabupaten Sragen, dan Boyolali di mana ada bakul (pembeli) besar.
Kini pasar produk dari UMKM Pande Besi UD Arum Sari makin berkembang dengan bermacam inovasi membuat alat pertanian, perkebunan, dan proyek.
Khusus untuk cangkul saja mungkin belasan hingga puluhan desain, belum sabit, parang, dodos sawit, cetakan batako dan lain-lain. Produknya juga sudah menyeberang hingga Kalimantan, seperti alat dodos sawit.