SuaraSerang.id - Stasiun Geofisika BMKG kota Padang Panjang merilis sebesar 14 kali gempa bumi mengguncang Kabupaten Kepulauan Mentawai & sekitarnya semenjak pagi sampai malam ini, Senin (29/8/2022).
Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang, Suadi Ahadu mengatakan, gempa pertama terjadi pada pukul 00.04, Senin (29/8/2022) dini hari WIB yang berkekuatan magnitudo 5,2.
"Gempa ke 2 berlangsung dalam pukul 05.43 WIB dengan kekuatan magnitudo 5,9. Kemudian disusul kurang satu jam kemudian terjadi gempa susulan dengan magnitudo 3,7," katanya.
Gempa yg paling besar terjadi lebih kurang pukul 10.29 dengan daya kekuatan magnitudo 6,1 yang terpusat di Kecamatan Siberut Barat, Desa Simalegi, Kepulauan Mentawai.
"Pada gempa keempat ini cuku besar. Kemudian kembali terjadi beberapa kali gempa susulan, tetapi tidak terlalu besar ," tutur Suadi.
Suadi juga mengungkapkan bahwa semua gempa yg terjadi hari ini adalah segmen megathrust yang berada disekitar wilayah Kepulauan Mentawai.
"Ini merupakan gempa segmen Megathrust Mentawai bagian utara. Terlihat titik gempa nya berpindah-pindah akan tetapi masih dalam zona yg sama. Kami tim BMKG Padang terus melakukan monitoring selama 24 jam," jelasnya.
Diketahui sebelumnya, Mentawai diguncang gempa magnitudo 6,1 pukul 10.29 WIB, Senin (29/8/2022) dini hari. Episenter gempa bumi tadi terletak dalam koordinat 0,99° LS ; 98,53° BT, atau tepatnya berlokasi pada laut dalam jarak 12 Km arah Barat Laut Siberut Barat, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.
"Gempa bumi ini adalah kelanjutan kegiatan gempa yang terjadi sebelumnya dalam pukul 00.04 WIB menggunakan M4,9 & pukul 05.34 WIB menggunakan magnitudo 5,8," Kata Plt. Kepala Pusat Gempabumi & Tsunami BMKG, Daryono pada keterangan tertulisnya.
Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Trending Twitter, Sebut Pensiunan PNS Jadi Beban Negara
Gempa bumi yang terjadi adalah jenis gempa bumi dangkal dampak adanya kegiatan subduksi lempeng segmen Megathrust Mentawai-Siberut. Hasil analisis prosedur sumber memperlihatkan bahwa gempa bumi mempunyai prosedur pegrgerakan naik atau thrust fault.
"Hasil pemodelan memperlihatkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," beber Daryono.
(Suara.com)