Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, mengomentari reaksi Partai Demokrat yakin duet Anies-AHY sudah tepat dan punya alasan kuat untuk maju di Pilpres 2024.
Menurutnya, jika didasarkan dari kriteria pertama Anies adalah calon pendamping yang memberikan kontribusi menunjukkan dalam pemenangan. Fernando memperkirakan kriteria tersebut belum dapat dimiliki oleh AHY.
Terbukti sejauh ini elektabilitas AHY masih rendah dan belum mampu meninggikan elektabilitas dari Anies jika mereka dipasangkan dalam survei.
Namun, Fernando juga mengakui bahwa AHY memiliki modal sebagai Ketua Umum partai Demokrat dan juga sebagai mantan tentara.
Namun, kedua faktor itu masih belumlah cukup untuk mendorong masyarakat dalam mendukungnya pada gelaran Pilpres 2024 mendatang.
"Kalau melihat elektabilitas, memang AHY ini sangat tidak membantu untuk bisa berpasangan dengan Anies. Tapi setidaknya ada satu nilai jual bagi AHY, yaitu sebagai mantan militer," ungkap Fernando.
"Tapi kan itu sangat kurang menjual juga, karena masyarakat Indonesia sangat-sangat meragukan kalau hanya dari segi pangkat dan jabatan di militer." tambahnya.
Kemudian, Fernando menilai AHY berdasarkan dari kriteria kedua yang disodorkan oleh Anies. Pada kriteria kedua ini, Anies membutuhkan seseorang yang dapat membantu memperkuat stabilitas koalisi.
![Direktur Rumah Politik Indonesia [Ayosemarang.com/dok]](https://media.suara.com/suara-partners/serang/thumbs/1200x675/2022/10/21/1-direktur-rumah-politik-indonesia.jpg)
Dan lagi-lagi, ia menilai pasangan Anies-AHY secara politis tidak cocok secara hitung-hitung politik. Karena akan ada gesekan antar sesama partai politik.
Baca Juga: 4 Cara Menyikapi Mantan yang Minta Balikan, Jangan Langsung Diterima!
"Sebenarnya kalau saya lihat dari apa yang dikatakan Anies itu, dalam hitungan politik seharusnya pas, karena yang dibutuhkan Anies tentu bukan figur partai politik," kata Fernando.
“Anies kan non parpol saat dideklarasikan Nasdem, tentu akan membangun koalisi ketiga parpol itu NasDem, PKS dan Demokrat. Tentunya Anies harus berpasangan dengan non parpol juga, agar kesepakatan ketiga parpol itu bisa tercapai", ungkapnya lagi.
Dan yang terakhir, Anies sempat mengutarakan bahwa ia butuh partner yang bisa membantu pemerintahan yang efektif, bahkan kriteria itu, kata Fernando, tidak juga sesuai dengan sosok dari AHY yang sama sekali tidak punya pengalaman di pemerintahan.
"AHY tidak memiliki pengalaman sebagai pejabat publik, sehingga sangat diragukan bisa menjalankan tata kelola pemerintahan dengan baik," jelas Fernando.
"Hal tersebut semakin dapat dibuktikan ketika AHY tidak mampu mengelola Partai Demokrat dengan baik, yang menyebabkan terjadinya kegaduhan di internal Demokrat dan terjadi di beberapa daerah banyak kedar mengundurkan diri," pungkasnya.
Oleh sebab itu, wajar jika Anies masih meragukan AHY, terutama dalam hal pemenuhan kriteria tadi. Peluang Anies memenangkan Pilpres 2024 diprediksi sangat tipis jika ia disandingkan dengan putra Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.
Pun juga, ia ragu jika AHY bisa meningkatkan suara masyarakat untuk memilih Anies di pemilu 2024 mendatang.