Serang Suara - Dua komunitas pegiat lingkungan maupun pertanian di Kota Padang, Sumatera Barat yakni Cahaya Maritim dan Mandeh Institute dipercaya untuk menyerukan Gerakan Budaya untuk Kedaulatan Pangan bersama komunitas Nusantara Code, Selasa (11/7/2023).
Gerakan Budaya untuk Kedaulatan Pangan tersebut sebagai reaksi atas peringatan ancaman krisis pangan global, termasuk di Indonesia atas dampak dari El Nino yang terjadi maupun sedang berlangsung. Kota Padang terpilih atas kegiatan tersebut karena tradisi agroekologi warisan leluhur.
Nofri Yani dari Cahaya Maritim yang bergerak di bidang konservasi mengatakan, Padang atau Sumatera Barat memiliki adat budaya dengan sistem kekerabatan adat, menyeluruh di berbagai nagari.
Bukan itu saja, tiap nagari juga punya komitmen dalam melakukan konservasi lingkungan maupun pengelolaan lahan pertanian. Itulah kemudian sambung Nofri Yani, daerah ini menjadi landasan gerakan pertanian yang ekologis.
"Ini kemudian Padang juga termasuk dalam gerakan budaya untuk kedaulatan pangan, sebab daerahnya tidak hanya mempertimbangkan kuantitas produksi saja. Tapi turut menjaga alam," katanya, Selasa 11 Juli 2023.
Seirama dengan penjelasan Novi Rovika, Mandeh Institute. Ia menerangkan kalau secara budaya, perempuan Minang memiliki keterlibatan aktif dalam pertanian.
"Ya ini selaras dengan ibu bumi yang penuh kasih. Para bundo juga penuh kasih memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat," jelasnya.
Adapun agenda Gerakan Budaya untuk Kedaulatan Pangan di Padang, 11 Juli 2023, antara lain dengan menayangkan film dokumenter Nusantara Code produksi 2022. Pada dokumenter tersebut menggambarkan tentang nilai keluhuran serta manfaat teknologi pertanian maupun tradisi.
Selain pemutaran film dokumenter, ada edisi workshop terkait mitigasi budaya lokal seperti pertanian, produksis pertanian, selaras alam, wirausaha dan jurnalistik. Sehingga dapat meningkatkan kapasitas pelaku pertanian Yayasan Cahaya Maritim maupun Mandeh Institute.
Baca Juga: Pelajar Padang di "Palak' Pemda Sumbar Kalau Pakai Lapangan Voli, Maidestal Hari Mahesa: Malu Kita

Wawancara terpisah dengan Wulansary, Program Director Nusantara Code part of Yayasan Sahabat Bumi mengatakan, gerakan budaya untuk kedaulatan pangan sangat penting. Agar masyarakat Indonesia tidak bergantung terhadap impor pangan saat terjadinya ancaman terhadap bangsa dan negara.
Ancaman yang dimaksud adalah bencana alam, termasuk ancaman terhadap situasi perang atau konflik antar negara secara internasional dapat mengganggu stabilitas ketahanan pangan.
Isu pangan bukan sekadar jadi ancaman terhadap bangsa Indonesia melainkan sejumlah negara di dunia. Bahkan PBB sambung Wulansary, telah mengultimatum bahwa bakal terjadi petaka baru dunia yang dapat mengancam pertanian maupun pangan. Adapun lokasi berada di kawasan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Menurut Wulansary, bahwa membangun gerakan seperti ini perlu semangat kebersamaan, bukan saja tanggung jawab para petani akan tetapi setiap unsur.
"Ya, seperti yang saat ini dengan mengandeng komunitas yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia yang masih peduli dan ingin berbuat untuk ketahanan dan kedaulatan pangan di Indonesia," katanya.
Sekadar catatan bahwa Gerakan Budaya untuk Kedaulatan Pangan mendapat dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.