SuaraSoreang.id - Terdapat makhluk mitologi asal Indonesia yang mirip dengan mitologi Yunani, Pegasus. Untuk di Indonesia nama makhluk tersebut bernama kuda sembrani.
Indonesia tidak terlepas dari hal-hal yang berbau mistis. Satu antaranya adalah mengenai adanya sosok atau makhluk yang dipercayai masyarakat, biasanya disebut makhluk mitologi.
Makhluk mitologi merupakan makhluk yang keberadaannya dihadirkan dalam kisah legenda atau mitologis.
Kuda sembrani digambarkan sebagai kuda yang memiliki perawakan gagah pemberani dan memiliki sayap yang membuatnya mampu terbang.
Dalam dunia pewayangan, kuda sembrani ini disebut sebagai tunggangan dari Batara Wisnu.
Sedangkan bila dilihat dari hikayat rakyat Jawa, kuda sembrani ini merupakan alat transportasi untuk bepergian bagi raja, ratu, dan Senopati.
Mereka menggunakan kuda sembrani agar bisa sampai tujuan lebih cepat dan mudah.
Makhluk yang dipercaya sebagai tunggangan para raja zaman dahulu ini mampu berpindah tempat atau teleportasi dengan cepat hanya dengan sekali kepakan sayapnya.
Sebab sekali kepakan sayap bisa menghantarkan para raja sejauh ratusan kilometer.
Baca Juga: Asal-usul Kuntilanak, Inspirasi dan Dibunuh Sultan Pontianak Hingga Jadi Nama Kota
Para raja menggunakan kuda sembrani ini untuk mengantarkan mereka pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah.
Dahulu di tanah Jawa ada suatu kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram. Kerajaan yang waktu itu dipimpin oleh raja yang sangat sakti dengan gelar Sultan Agung.
Pada suatu hari di tengah-tengah tapa bratanya atau istilah lainnya yaitu mengendalikan hawa nafsu, Kanjeng Sultan Agung mendapatkan petunjuk gaib seperti suara yang berbisik kepadanya agar dia mempekerjakan seorang abdi bernama Ki Bodho.
Apabila dia mempekerjakan orang tersebut niscaya Kerajaan Mataram akan tentram damai dan rakyatnya hidup sejahtera.
Kemudian Sultan Agung memerintahkan abdi-abdi lainnya untuk mencari orang yang tersebut, setelah ketemu orang tersebut langsung dihadapkan dengan raja. Raja langsung meminta bantuan Ki Bodho.
Setelah sedikit menolak perintah Sultan Agung, Ki Bodho akhirnya menerima tawaran itu. Serta Sultan Agung meminta saran kepada Ki Bodho untuk meningkatkan ketentraman dan kesejahteraan segenap rakyat.