SuaraSoreang.id-Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan Mahfud MD, telah mendalami investigasi kasus tragedi Stadion Kanjuruhan.
Kali ini, Ketua TGIPF sekaligus Menkopolhukam itu menyebut ada peluang penetapan tersangka baru atas kasus pidana peristiwa Tragedi Stadion Kanjuruhan.
Sebelumnya hasil Investigasi dari tragedi yang menyebabkan korban meninggal 132 orang tersebut telah diberikan Tim TGIPF ke Presiden Joko Widodo (Jokowi),
Mahfud menyampaikan itu kepada awak media di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip dari PMJ News pada 15 Oktober 2022.
"Sangat terbuka peluang itu, tergantung Polri. Dan masyarakat sudah banyak berbicara siapa yang patut diduga jadi tersangka baru kan, setiap hari ada di televisi, ada di koran," ujar Mahfud
Namun demikian, Mahfud menegaskan bahwa penetapan tersangka tersebut harus sesuai dengan hukum acara pemeriksaan yang saat ini tengah dijalankan Polri.
Mahfud bersama 13 anggota TGIPF telah menyampaikan laporan hasil investigasi Tragedi Kanjuruhan secara langsung kepada Presiden RI Joko Widodo pada Jumat 14 Oktober 2022.
Dengan penyampaian laporan tersebut, menurut Mahfud TGIPF Tragedi Kanjuruhan telah menuntaskan tugasnya sesuai arahan Presiden Jokowi.
Mahfud meyakini pihak kepolisian lebih mengetahui seluk beluk dan pemenuhan kebutuhan untuk menetapkan tersangka baru Tragedi Kanjuruhan.
Baca Juga: SERAM! 5 Pulau Angker Jadi Sarang Hantu di Indonesia
"Kami sudah menulis di laporan tebal itu, tapi kami tahu bahwa polisi lebih mengetahui untuk mencari itu caranya karena polisi punya senjata hukum acara," jelasnya.
Sesaat usai menyampaikan laporan hasil Investigasinya, Mahfud sempat menyampaikan kesimpulan dari laporan TGIPF Tragedi Kanjuruhan tersebut.
Salah satunya yang menyatakan bahwa PSSI harus bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, baik tanggung jawab hukum pidana maupun tanggung jawab moral.
"Satu tanggung jawab hukum pidana karena kematian yang sangat mengerikan dan itu karena kelalaian sekurang-kurangnya sangat mengerikan kematian 132 orang," ujarnya.
Sumber: ANTARA