SuaraSoreang.id - Mitos Ramalan Jayabaya kerap dikaitan dengan meletusnya gunung Semeru.
Seperti diketahui, Gunung Semeru kembali meletus sekitar pukul 02.46 WIB, Minggu (4/12/2022). Di mana tepat setahun yang lalu pada tanggal yang sama, 4 Desember 2021, erupsi Semeru menelan puluhan korban jiwa.
Salah satu gunung tertinggi di Indonesia ini kerap dikaitkan dengan ramalan Jayabaya atau ramalan jangka Jayabaya karya Raja Kerajaan Kediri 1135-1157 atau dikenal Prabu Jayabaya.
Banyak masyarakat yang mempercayai ramalan Jayabaya karena ramalan ini terus dilestarikan turun temurun.
Terkait asal usul ramalan Jayabaya sendiri tertulis dalam kitab Pusasar yang digucah Sutan Giri Prapen.
Isi dari ramalan Jayabaya yakni prediksi kondisi Nusantara di setiap masa.
Dalam ramalan karya Prabu Jayabaya ini disebutkan akan ada suatu waktu di mana kondisi Nusantara menjalani kondisi masa penuh bencana.
Hal tersebut akan terjadi pada masa ketidakadilan dan keacuhan atau ketidakpedulian.
Di mana orang yang berkuasa adalah orang yang licik dan orang baik akan tertindas.
Baca Juga: Pandemi Covid-19 Bikin Tren Liburan Berubah, Banyak Wisatawan Ingin Lebih Personal
Pada kondisi tersebut, ramalan Jayabaya menyebutkan akan terjadinya bencana-bencana. Di antaranya gunung yang meletus, bumi yang berguncang, laut dan sungai yang meluap ke daratan.
Namun, setelah masyarakat Nusantara bisa melewati masa suram dan penderitaan ini maka akan datang masa baru dengan yang lebih baik dan mulia.
Kedatangan masa depan yang lebih baik ini ditandai dengan kehadiran Satrio Piningit atau Ratu Adil.
Selain itu, dalam bait ke 164, Raja Kediri mengatakan jika Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian.
Namun, dalam ramalan tersebut bukan Gunung Semeru yang akan membuat Pulau Jawa terbelah menjadi dua tetapi jika Gunung Slamet meletus.
Banyak masyarakat percaya dengan ramalan Jayabaya karena dinilai beberapa ramalannya terbukti.
Berikut salah satu ramalannya.
Besuk nek wis anak kereta mlaku tanpa jaran
Tanah Jawa kalungan wesi
Prahu mlaku ing awang-awang
Kali ilang kedunge
Pasar ilang kumandhange
Iku tanfa yen zaman Jayabaya wis cedak
Artinya:
Besok jika sudaha ada kereta berjalan tanpa kuda
Tanah Jawa berkalung besi
Perahu berjalan di angkasa
Sungai hilang lubuknya
Pasar tak lagi ramai berkumandang
Itulah pertanda zaman Jayabaya sudah dekat.
Secara ilmiah ramalan Jayabaya ini memiliki makna-makna bahasa yang plastis dan luwes yang bersifat multitafsir. Sehingga ramalan Jayabaya mudah ditafsirkan dengan konteks yang ada.(*)