SuaraSoreang.id - Beberapa tahun lalu sempat viral cerita horor di salah satu universitas di Indonesia soal dosen hantu atau dosen gaib yang mengajar di kelas.
Dosen hantu ini terjadi ketika mahasiswa masuk ke dalam kelas pengganti namun, dosen yang asli tiba-tiba mengabari tak bisa menghadiri kelas.
Kisah dosen hantu ini konon dialami mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Saat itu, mahasiswa mendapat kabar jika dosen meminta kelas pengganti pukul setengah 6 sore.
Semua mahasiswa sudah berkumpul dalam ruangan kelas tersebut.
Kemudian, dosen itu memasuki kelas. Namun, dosen yang masuk ini berperawakan tinggi dan tidak berbicara apapun.
Ketika proses pengajaran sedang berjalan, tiba-tiba ketua kelas tersebut diberi pesan via sms oleh dosen mata kuliah yang seharusnya mengajar.
Dosen tersebut mengabarkan jika dirinya tak bisa mengajar di kelas.
Sontak, ketua kelas ini kaget dengan pesan yang dia baca.
Muncul pertanyaan, "Lalu, siapa dosen yang mengajar depan kelas?,".
Untuk memastikan wujudnya, ketua kelas ini menjatuhkan bolpoinnya demi melihat ujung kakinya.
Naas, kaki dosen yang mengajar ini tidak ada.
Tak lama, ketua kelas ini pun memberi tahu pada teman-temannya di grup dan memerintahkan teman-temannya itu untuk keluar satu per satu.
"Sekarang tolong keluar satu per satu dari yang paling belakang tanpa teriakan-teriakan,"
Saat teman-temannya sudah keluar satu per satu, dosen yang berada di depan kelas itu langsung bertanya.
"Sudah malam atau sudah tahu?,".
Seramnya cerita ini membuat kita merinding sendiri. Namun, apakah kisah ini nyata sesuai dugaan atau hanya fiktif belaka?
Menurut salah satu penulis di blog.unnes.ac.id, kisah ini tidak benar. Sebab, beberapa tahun sebelum dia berkuliah di UNNES pun, cerita dosen hantu ini sudah beredar lama.
Selain UNNES, kisah horor ini disebutkan terjadi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Bahkan ditambahkan dengan narasi jika usai dosen hantu ini muncul, seluruh mahasiswa UAD diliburkan selama tiga hari.
Namun, pihak UAD membantah kejadian ini terjadi di kampus tersebut dan menyatakan kabar tersebut hanya hoax belaka.
Di samping itu, masih banyak juga pihak yang percaya jika kasus ini betul terjadi di UNNES.(*)