Kenangan Liliyana: Terintimidasi Praveen / Debby, Perang Dingin dengan Owi

Rizki Nurmansyah
Kenangan Liliyana: Terintimidasi Praveen / Debby, Perang Dingin dengan Owi
Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, melaju ke final Singapore Open 2018 usai menaklukkan juniornya, Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandow, di babak semifinal, Sabtu (21/7). [Humas PBSI]

Liliyana menceritakan tentang beratnya menyelesaikan ketegangan yang pernah terjadi dengan Tontowi.

Suara.com - Gelimangan gelar dan prestasi tak didapat Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir semudah membalikkan telapak tangan.

Di samping dituntut kerja keras, hubungan personal mereka pun diwarnai pasang surut.

Liliyana pun menceritakan tentang beratnya menyelesaikan ketegangan yang pernah terjadi dengan Tontowi.

Pebulutangkis Indonesia Tontowi Ahmad (kiri) bersama partnernya di ganda campuran, Liliyana Natsir, merayakan keberhasilan meraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8/2016). [AFP/Goh Chai Hin]
Pebulutangkis Indonesia Tontowi Ahmad (kiri) bersama partnernya di ganda campuran, Liliyana Natsir, merayakan keberhasilan meraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8/2016). [AFP/Goh Chai Hin]

Kegagalan total tanpa medali di Olimpiade 2012 London ternyata bukanlah saat terberat bagi mantan pasangan ganda campuran nomor satu dunia tersebut.

Tapi merangkak dari keterpurukan minim gelar di tahun 2015 dan awal 2016 menjadi tantangan terberat bagi Tontowi/Liliyana.

Bahkan Liliyana menggambarkan hubungannya dan pasangan mainnya tersebut dengan istilah gersang.

"Waktu itu ekspektasi orang tinggi, dan kami lagi terpuruk sekali cuma dapat satu gelar juara sebelum olimpiade," kata Liliyana dalam keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Kamis (20/5/2020).

"Owi (sapaan akrab Tontowi) nggak marah sih sama saya, saya juga enggak. Tapi gimana ya namanya pemain dapat hasil jelek itu situasinya nggak ribut, tapi nggak akur juga, susah menjelaskannya. Damai tapi gersang, kayak lagi perang dingin," kenang Liliyana.

Praveen Jordan/Debby Susanto membawa harum nama Indonesia dengan menjadi juara di turnamen bulutangkis tertua di dunia [Humas PBSI]
Praveen Jordan/Debby Susanto menjuarai All England 2016. [Humas PBSI]

Bahkan Tontowi/Liliyana sempat merasa terintimidasi dengan hasil gemilang yang diraih junior mereka, Praveen Jordan/Debby Susanto di ajang All England 2016, beberapa bulan sebelum olimpiade.

"Waktu itu kami berpikir apa posisi kami sudah terganti ya sama Praveen/Debby? Ya namanya persaingan, akhirnya saya dan Owi sama-sama nurunin ego," ungkapnya.

"Saya kontrol emosi, Owi nggak sensitif lagi, begini pun sebetulnya nggak menjamin kami jadi juara, tapi setidaknya kami berdua jauh merasa lebih baik," kata Liliyana.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS