Suara.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Susy Susanti turut menanggapi mundurnya negara-negara peserta dari turnamen Piala Thomas dan Uber 2020.
Sejauh ini, tiga negara telah memutuskan mundur alias batal mengikuti kejuaraan beregu putra dan putri terakbar di dunia itu. Tiga negara tersebut adalah Australia, Taiwan, dan yang terkini Thailand.
Susy mengatakan bahwa sebagai pengurus PBSI, tugasnya hanyalah mempersiapkan tim semaksimal mungkin.
Sementara terkait kepastian ikut tidaknya Indonesia ke Piala Thomas 2020 dan Piala Uber 2020, keputusan disebutnya berada di tangan pimpinan PBSI dan pemerintah.
"Saya harus diskusi, meminta arahan, serta petunjuk juga dari pimpinan PBSI dan juga pemerintah," kata Susy Susanti saat dihubungi Suara.com, Rabu (9/9/2020).
"Di Piala Thomas dan Uber 2020, kami itu berjuang atas nama Indonesia, bukan hanya nama pribadi," tambahnya.
Susy mengakui bahwa pandemi global virus Corona memang membuat situasi dunia olahraga kian sulit. Semua turnamen yang telah terjadwal pun dinilainya tak benar-benar memiliki kepastian.
Meski begitu, sebagai insan olahraga, Susy menekankan bagi para atlet dan seluruh staf pelatih untuk tetap semangat dalam mempersiapkan diri sebaik mungkin.
"Kalau buat saya dan atlet sih kita mempersiapkan diri saja semaksimal mungkin. Untuk nanti, kita lihat saja situasi dan arahan pimpinan, mulai dari ketua umum (PBSI -- Wiranto) dan pemerintah," tukas Susy.
Piala Thomas dan Uber 2020 direncanakan bergulir di Aarhus, Denmark pada 3-11 Oktober mendatang.
Ini menjadi turnamen penanda kembali berlanjutnya kompetisi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), usai vakum sejak pertengahan Maret lalu imbas pandemi.
Di Piala Thomas, Indonesia yang merupakan unggulan pertama, tergabung di Grup A bersama Malaysia, Belanda dan Inggris.
Sementara di Piala Uber, Indonesia tergabung di Grup B bersama Korea Selatan, Australia (mundur, belum ada tim pengganti), serta Malaysia.