alexametrics

COVID-19 Tak Bisa Diprediksi, Olimpiade Tokyo Mungkin Saja Dibatalkan di Detik Terakhir

Syaiful Rachman
COVID-19 Tak Bisa Diprediksi, Olimpiade Tokyo Mungkin Saja Dibatalkan di Detik Terakhir
Jam hitung mundur Olimpiade 2020 Tokyo berada di luar Stasiun Tokyo Railway, Jepang, Senin (20/4/2020). [AFP/Philip Fong]

Saat ini semakin banyak atlet dan ofisial yang terpapar COVID-19.

Suara.com - CEO Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020, Toshiro Muto, mengatakan tidak mengesampingkan opsi pembatalan Olimpiade pada detik-detik terakhir, menyusul semakin banyak atlet dinyatakan positif COVID-19 dan sponsor utama membatalkan rencana untuk menghadiri upacara pembukaan yang akan berlangsung Jumat (23/7/2021).

Saat ditanya apakan acara olahraga multievent dunia itu masih ada kemungkinan untuk dibatalkan, Muto mengatakan akan mengawasi jumlah kasus dan menghubungi badan lain yang terkait dengan penyelenggaraan jika perlu.

"Kami tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan jumlah kasus virus corona. Jadi kami akan melanjutkan diskusi jika ada lonjakan kasus," kata Muto, dikutip dari Reuters, Selasa (20/7/2021).

 Warga berjalan di dekat spanduk promosi penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 yang telah ditunda sejak tahun lalu akibat mewabahnya COVID-19 di Tokyo, Jepang, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Fabrizio Bensch/wsj.
Warga berjalan di dekat spanduk promosi penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 yang telah ditunda sejak tahun lalu akibat mewabahnya COVID-19 di Tokyo, Jepang, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Fabrizio Bensch/wsj.

"Kami telah sepakat bahwa berdasarkan situasi virus corona, kami akan mengadakan pembicaraan lima pihak lagi. Pada titik ini, kasus virus corona dapat naik atau turun, jadi kami akan memikirkan apa yang harus kami lakukan ketika situasi itu muncul."

Baca Juga: Olimpiade Tokyo: NOC Indonesia Berangkatkan Atlet Angkat Besi dan Rowing Malam Ini

Kasus COVID-19 meningkat di Tokyo dan Olimpiade, yang ditunda tahun lalu karena pandemi, membuat acara akan diadakan tanpa penonton. Jepang bulan ini memutuskan bahwa peserta akan bersaing di tempat kosong untuk meminimalkan risiko kesehatan.

Penyelenggara mengatakan sejauh ini ada 67 kasus COVID-19 di Jepang untuk Olimpiade sejak 1 Juli, ketika banyak atlet dan ofisial mulai berdatangan.

Jepang, yang program vaksinasinya tertinggal dibandingkan kebanyakan negara maju lainnya, telah mencatatkan lebih dari 840.000 kasus dan 15.055 kematian dan kota tuan rumah Olimpiade mengalami lonjakan baru kasus COVID-19, dengan 1.387 kasus tercatat pada Selasa.

Penyelenggara telah berjanji untuk membuat Olimpiade tetap "aman dan terjamin." Sementara, Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach beberapa bulan lalu mengatakan bahwa membatalkan acara tidak pernah menjadi opsi.

Namun, para ahli melihat celah dalam "gelembung" Olimpiade yang telah menjalankan tes COVID-19 harian dan telah membatasi pergerakan peserta.

Baca Juga: Kasus Baru COVID-19 di Kampung Atlet Olimpiade, Kali Ini Pelatih Voli Pantai Ceko Terpapar

Ketua Panitia Penyelenggara Olimpiade, Seiko Hashimoto, mengatakan bahwa langkah-langkah keamanan yang diperkenalkan untuk meyakinkan publik Jepang belum tentu dilakukan, dan dia menyadari bahwa dukungan masyarakat untuk Olimpiade menurun.

Komentar