- Kepala Pelatih Karel Mainaky mengapresiasi peningkatan performa atlet ganda putri Indonesia pada ajang Polytron Indonesia Open 2026.
- Pasangan muda Rachel/Febi mencatatkan prestasi membanggakan dengan menembus babak semifinal turnamen level BWF World Tour Super 1000.
- Keberhasilan ini didorong melalui metode latihan intensif dan penguatan mentalitas pemain yang diterapkan di Pelatnas Cipayung.
Suara.com - Kepala Pelatih Ganda Putri PP PBSI, Karel Mainaky, memberikan apresiasi tinggi terhadap perkembangan signifikan anak asuhnya di ajang Polytron Indonesia Open 2026.
Sektor ganda putri Indonesia dinilai mulai memperlihatkan tren positif dengan pencapaian prestasi yang merata di turnamen level BWF World Tour Super 1000 tersebut.
Sinyal kebangkitan ini terlihat jelas dari keberhasilan pasangan muda Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum yang sukses menembus babak semifinal.
Selain itu, dua pasangan ganda putri andalan lainnya juga mampu menunjukkan taring dengan melangkah hingga babak perempat final.
Karel Mainaky menyebut ada perubahan mentalitas yang sangat krusial pada diri para pemain Merah Putih saat ini.
![Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Amallia Cahaya Pratiwi (kiri) dan Siti Fadia Silva Ramadhanti (kanan) saat melawan ganda putri Jepang Yuki Fukushima dan Mayu Matsumoto China pada babak 8 besar Polytron Indonesia Open 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/55836-indonesia-open-2026-fadiatiwi-siti-fadia-silva-ramadhanti-dan-amallia-cahaya-pratiwi.jpg)
"Saya melihat memang ada progres dari anak-anak, sedikit demi sedikit. Penampilan mereka memang cukup baik di turnamen ini," kata Karel Mainaky dikutip dari Antara.
"Mereka terlihat lebih yakin, biasanya memandang lawan itu terlalu hebat."
"Memang saya lagi berusaha agar mereka tidak memandang lawan itu siapa, sebelum kita kalah ya kita tarung dulu," kata Karel Mainaky.
Rachel/Febi Jadi Kejutan di Level Elite Dunia
Rachel/Febi tercatat sebagai wakil ganda putri Indonesia dengan pencapaian paling mentereng di Istora Senayan tahun ini.
Langkah pasangan muda tersebut baru terhenti di babak empat besar setelah menghadapi ganda putri nomor satu dunia asal China, Liu Sheng Shu/Tan Ning.
Meski kalah dengan skor 17-21 dan 16-21, perlawanan yang diberikan Rachel/Febi dianggap sebagai modal berharga untuk masa depan.
Karel menilai anak asuhnya sebenarnya memiliki peluang untuk membalikkan keadaan jika tampil lebih tenang pada momen-momen krusial.
"Kalau untuk hasil hari ini sebenarnya disayangkan ya. Rachel/Febi sebetulnya punya peluang, mereka sudah berusaha untuk menguasai permainan. Namun ada beberapa hal yang membuat mereka ragu-ragu," ujar sang pelatih.
Kendati demikian, pencapaian semifinal turnamen kelas Super 1000 menjadi hasil yang sangat positif bagi pasangan yang baru diduetkan selama sembilan bulan tersebut.
Selain Rachel/Febi, Indonesia juga menempatkan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi serta Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari di babak perempat final.
Fadia/Tiwi harus mengakui keunggulan pasangan Jepang, sedangkan Ana/Trias tersingkir setelah kalah dalam duel sesama wakil Indonesia melawan Rachel/Febi.
Rahasia Latihan Khusus dan Penguatan Pola Pikir
Peningkatan performa yang terjadi di lapangan ternyata berakar dari persiapan intens yang dilakukan Karel Mainaky di Pelatnas Cipayung.
Karel bahkan mengambil keputusan untuk tidak mendampingi tim ke tiga turnamen mancanegara demi memoles fisik dan mental pemain secara langsung.
"Persiapan ke turnamen ini memang lebih intens, saya sampai tidak berangkat ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Selain latihan, saya juga bentuk pola pikir mereka," ungkap Karel.
Ia menerapkan metode latihan yang sangat spesifik dan dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing pemain.
Pendekatan ini mencakup pemberian porsi latihan tambahan pada jam-jam tertentu untuk menguji ketahanan fisik para pemain.
"Tiga pasangan ini memang programnya berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Selain program latihan umum, ada latihan tambahan terpisah."
"Misalnya Rachel/Febi yang paling muda, saya kasih latihan pagi, lanjut ke Fadia/Tiwi dan Ana/Trias paling siang karena di poin akhir masih sering menurun, jadi saya kasih tambahan di sesi terakhir saat mereka capek," pungkas Karel.
Ganda putri Indonesia sempat mengalami masa paceklik prestasi dan kesulitan bersaing di level atas dalam beberapa musim terakhir.
Indonesia Open 2026 menjadi titik balik penting ketika para pemain muda mulai menunjukkan kepercayaan diri untuk bersaing melawan pasangan-pasangan peringkat atas dunia.