- Pebulu tangkis putri Thailand Pitchamon Opatniputh terbukti positif menggunakan zat terlarang furosemide pada sampel B.
- Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand menyampaikan hasil pemeriksaan sampel tersebut pada Senin, 28 September.
- Juara dunia junior tersebut menghadapi potensi sanksi larangan bertanding hingga dua tahun dalam proses disipliner berikutnya.
Suara.com - Pebulu tangkis putri Thailand, Pitchamon Opatniputh, kembali mendapat kabar buruk dalam kasus doping yang menjeratnya.
Hasil pemeriksaan sampel B atlet berusia 19 tahun itu ternyata kembali menunjukkan hasil positif.
Kabar tersebut disampaikan Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand pada Senin (28/9).
Pejabat kementerian, Surasak Panjaroenvorakul, mengatakan hasil sampel B Pitchamon identik dengan sampel A yang sebelumnya telah dinyatakan positif.
Zat yang terdeteksi dalam pemeriksaan tersebut adalah furosemide, obat yang memiliki efek diuretik atau meningkatkan produksi urine.
Furosemide termasuk zat yang dilarang dalam daftar Badan Antidoping Dunia (WADA).
![Pitchamon Opatniputh lolos ke 16 besar Indonesia Open 2026 usai menaklukkan Nguyen Thuy Linh. Ia memuji atmosfer dan suporter Istora Senayan yang menggemaskan. [Dok. IG pinkkk_opat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/73997-pitchamon-opatniputh.jpg)
Sebelumnya, Pitchamon dinyatakan positif melalui sampel A ketika sedang berada di Jepang untuk mengikuti Asian Games 2026.
Hasil tersebut membuat sang pemain langsung dilarang bertanding dan kemudian meminta pemeriksaan terhadap sampel B.
Pemeriksaan sampel B menjadi kesempatan bagi Pitchamon untuk membuktikan bahwa hasil sebelumnya keliru. Namun, hasil terbaru justru kembali menunjukkan adanya furosemide dalam sampel yang diperiksa.
Dengan dua sampel yang sama-sama positif, peluang Pitchamon untuk lolos dari proses disipliner menjadi semakin kecil.
Tahap berikutnya adalah proses penanganan kasus dan penentuan sanksi terhadap pemain muda Thailand tersebut.
Sejumlah media Thailand menyebut Pitchamon berpotensi mendapatkan hukuman larangan bertanding hingga dua tahun.
Namun, besaran hukuman tersebut masih harus ditentukan melalui proses disipliner dan tidak otomatis berlaku hanya karena sampel A dan B sama-sama positif.
Pitchamon masih memiliki peluang untuk mengajukan pembelaan.
Salah satu hal yang dapat menjadi bagian dari proses tersebut adalah menjelaskan bagaimana furosemide bisa masuk ke dalam tubuhnya, termasuk kemungkinan penggunaan produk kesehatan atau suplemen yang tidak mencantumkan seluruh kandungannya pada label.
Pada 2023, ia menjadi juara dunia junior.
Pitchamon juga sudah mengoleksi dua medali emas SEA Games bersama tim Thailand ketika masing-masing masih berusia 15 dan 17 tahun.
Di level BWF World Tour, Pitchamon turut menunjukkan perkembangan pesat.
Pitchamon menjuarai Baoji China Masters 2025 kategori Super 100 dan menjadi runner-up Orleans Masters 2026 serta Indonesia Masters 2026.