Sukabumi.suara.com - Kampung adat Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi, bagi sebagian wisatawan, tempat ini mungkin tidak asing lagi.
Kampung yang berada di ketinggian 800 - 1200 meter dari permukaan laut, dihuni masyarakat yang masih mempertahankan adat leluhur sebagai orang sunda.
Kampung Cipagelar terletak di Kampung Sukamulya. Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi berada di pedalaman Gunung Halimun - Salak. yang memiliki suasana yang asri dan sejuk.
Berbagai kegiatan dilakukan sesuai kebiasaan nenek moyang seperti cara bertani hingga gaya berpakaian. Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi para wisatawan, walaupun Kampung Adat Ciptagelar bukan tempat wisata.
![Tradisi Seren Taun yang masih jalankan oleh warga Kampung Ciptagelar [Tangkapan layar video Youtobe Disbudpar Jabar]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/06/01/1-ciptagelar.png)
Uniknya walaupun masih mempertahankan adat dan tradisi, masyarakat itu melek teknologi. Buktinya di kampung tersebut terdapat aliran listrik yang bersumber dari PLTA yang dibangun secara swadaya.
Selain itu juga didirikan stasiun televisi dan radio yang dikelola oleh masyarakat sekitar.
Kembali soal tradisi yang masih dipegang turun temurun di Kampung Ciptagelar. Masyarakat di Kampung Ciptagelar memiliki ciri khas dari lokasi dan bentuk rumahnya.
Ciptagelar terbuka bagi tamunya atau wisatawan yang berkunjung biasanya untuk mengenali dan mempelajari cara hidup budaya lokal. Wisatawan juga bisa merasakan suasana asri dan sejuk yang jauh dari kehidupan kota yang ingar bingar.
![Warga Kampung Ciptagelar saat menari menjalankan tradisi leluhur [Tangkapan layar video Youtobe Disbudpar Jabar]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/06/01/1-ciptagelar3.png)
Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah.
Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan.
Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan.
Namun demikian sebagai tempat rujukannya, “pusat pemerintahannya” adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang).