Sukabumi.suara.com - Tidak semua orang memiliki hati yang tergerak untuk peduli terhadap satwa liar yang ada di alam. Perlu mengalami momen ‘panggilan khusus’ dari hati untuk menjadi seseorang yang memiliki rasa kecintaan tinggi terhadap lingkungan. Salah satu sosok yang sudah mengalami hal tersebut adalah Tini Kasmawati.
Bukan berasal dari seseorang yang aktif melakukan kegiatan alam. Dan tidak juga dirinya memiliki kelebihan dari segi materi untuk menjamin kehidupan satwa liar. Namun nama Tini cukup dikenal sebagai seorang perempuan yang menjaga kelestarian owa jawa di Sukabumi.
Lalu, seperti apa kisahnya?
Sama seperti masyarakat biasa, Tini awalnya hanya warga biasa di Kampung Cimaranginan, Desa Lengkong, Sukabumi. Ia tahu jika di hutan daerah tempat tinggalnya hidup sekelompok satwa cukup langka yakni owa jawa.
Namun keingintahuan tersebut belum membuat Tini mencari tahu lebih jauh. Semuanya baru berubah sejak 2014, saat kampungnya kedatangan mahasiwa dari Belanda yang ingin melakukan penelitian terhadap owa jawa.
Tini heran, karena mereka rela datang ribuan kilometer dan menghabiskan uang yang tidak sedikit hanya untuk mempelajari owa jawa.
“Mereka (orang Belanda) yang datang jauh dari sana dengan biaya sampai ratusan juta begitu peduli. Kenapa saya yang notabene lahir dan besar di sini tidak, padahal otomatis owa jawa yang ada di sini milik kita, milik orang Lengkong khususnya orang Indonesia” kisah Tini.
Rutin memberi makan
![Owa jawa [Tommy Ardiansyah/Reuters]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/08/09/1-tini-2-800x562.jpg)
Sejak saat itu akhirnya hati Tini mulai tergerak. Ia mendekati beberapa ekor owa jawa yang kemudian diurus kehidupannya. Sudah hampir 10 tahun lamanya Tini menjaga kehidupan sekelompok owa jawa yang terdiri dari 4-5 individu.
Tini setiap harinya rutin memberi makan berupa buah-buahan kepada kelompok owa jawa tersebut. Kegiatan itu ia lakukan pada waktu subuh dan siang, atau sore hari. Bukan tanpa alasan Tini melakukan hal itu, pasalnya para owa jawa disebut sudah kesulitan mencari makan.
Baca Juga: Catat !! Ini Daftar Lengkap Tarif Tol Jakarta-Sukabumi
Akibatnya, hewan tersebut kerap masuk ke pemukiman dan berlarian di atap rumah warga hanya untuk mencari makan. Yang paling parah, pernah ada owa yang mati tersengat kabel listrik karena mencari makan terlalu dekat dengan pemukiman.
Para owa tersebut rupanya sudah akrab dengan sosok Tini layaknya keluarga. Tini bahkan sampai memiliki julukan khusus untuk masing-masing individu owa dari kelompok tersebut.
Lain itu, selama ini dia juga hanya mengandalkan hidup dari berdagang kopi di lingkungan dekat kantor Perum Perhutani tempat tinggalnya. Dari hasil berjualan itu, ia bahkan lebih sering memperoleh pendapatan kurang dari Rp50 ribu. Namun dari pendapatan itu lah, dirinya membeli buah-buahan untuk makanan para owa.
Tini berharap apa yang ia lakukan dapat membantu melestarikan owa yang tersisa. Sebenarnya Tini memiliki mimpi besar, dan berharap ada orang dermawan yang ingin membeli lahan di wilayah tersebut untuk dijadikan lahan konservasi.