Suara Sumatera - Pada saat perayaan natal kemarin, menjadi momen Anies Baswedan mendapatkan nama yang diberikan oleh umat kristiani. Hal ini diberikan kepada Anies Baswedan yang juga didoakan sebagai sosok seorang Presiden nantinya.
Lalu apakah makna nama Yohanes yang disematkan pada calon Presiden (Capres) Anies Baswedan yang telah diusung menjadi Presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Publik memang dikejutkan dengan pemberian nama Yohanes kepada Anies Baswedan ini. Pada video tampak Anies mendatangi sebuah rumah doa di Papua. Anies disambut oleh para pemuka agama setempat dan dikalungkan noken.
Sang pemuka agama kemudian memberikan nama Yohanes pada mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
"Anak kami Anies datang di Rumah Tuhan dengan nama Yohanes," ucapnya kepada Anies.
Video ini pun diunggah oleh akun media sosial Katolik Garis Lucu. Tidak menunggu lama, warganet pun kemudian ramai mengomentari unggahan ini.
"Saya masuk ke rumah orang Jawa, dipanggil surip, senang saja tidak ada masalah. Pak anies masuk ke rumah orang Papua, dipanggil Yohannes, pasti senang senang saja, biasa," ujar netizen.
"Selamat atas dibaptisnya yang mulya bapak doktor Yohanes Anis baswedan," komentar warganet yang nyelekit.
Video penyematan nama Yohanes itu sontak menjadi gorengan politik banyak pihak. Politisi PDI Perjuangan Ruhut Sitompul membuat pernyataan satire mengenai Presiden nonmuslim pertama Indonesia.
Baca Juga: Elite PA 212 Bicara Capres yang Bakal Didukung di 2024, Komando Habib Rizieq Bakal Diikuti
"Bapak Yohanes AB semoga menjadi presiden RI yang pertama yang nonmuslim, paten, MERDEKA," tulis Ruhut Sitompul dalam cuitannya.
Bukan cuma Ruhut,
Politikus PSI, Guntur Romli juga berkomentar soal pemberian nama Yohanes pada Anies. Dia menyindir Anies yang dianggap tak berani mengucapkan natal.
"Kok Yohanes Anies takut ngucapin selamat natal?" tulis Guntur Romli.
Sedangkan pegiat media sosial Mazdjo Pray juga mengomentari Anies yang mendapat nama Yohanes.
"Selamat dengan nama baru yang sekarang melekat di bapak. Gimana rasanya pak jadi minoritas?" tutur Mazdjo.