Suara Sumatera - Bakal calon presiden Anies Baswedan sudah hampir pasti diusung Koalisi Perubahan yang terdiri dari tiga partai yaitu Nasdem, Demokrat dan PKS.
Tinggal sekarang menentukan siapa kira-kira pendamping Anies Baswedan untuk maju di Pilpres 2024. Sejumlah nama muncul.
Namun yang paling kuat adalah nama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menduga partai-partai akan menggunakan strategi teritorial untuk menghitung capres cawapres mana yang diusung untuk memenangkan Pilpres.
"Pertama pasti perhatian utama Jawa. Di Jawa uda jelas. Isunya dua aja. Memaksimalkan Jawa Barat atau Jawa Timur karena Jawa Tengah susahlah. Milik PDIP. Jadi pilihan Prabowo dan Anies memaksimalkan Jawa Barat atau Jawa Timur," kata dia dikutip dari Youtube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia.
Ganjar juga sama. Karena sudah cukup kuat di Jawa Tengah, kata Djayadi, jika Ganjar ingin memperbesar kemenangan harus memaksimalkan Jawa Barat atau Jawa Timur.
Di koalisi Perubahan, Djayadi mengatakan, posisi Anies Baswedan cukup kuat di Jawa Barat. Jika Prabowo, Anies, Ganjar, bertarung, suaranya sama kuat di Jawa Barat.
"Karena PDIP punya basis sendiri. Kalau kita lihat suara PDIP di Jawa Barat bisa mencapai 28, 30 persen, pemenang Pemilu walau Pak Jokowi kalah di situ," tuturnya.
Sementara Anies dan Prabowo bisa berbagi di wilayah yang sama. Sehingga suaranya bisa 30-30. Atas dasar itu, menurut Djayadi bagi Koalisi Perubahan memaksimalkan Jawa Barat bukan pilihan utama.
Pilihan utamanya memaksimalkan Jawa Timur. Yaitu memilih calon mana yang secara teritorial kuat di Jawa Timur.
"Itulah hitung-hitungannya apakah AHY apakah Khofifah, mana yang paling banyak secara kualitatif punya kekuatan?" tutur dia.
Zulfan Lindan mengatakan, AHY bisa kuat di Jawa Timur Karena wagub Emil Dardak berasal dari Partai Demokrat dan disukai kaum milenial.
"Ini basis buat Demokrat kalau AHY diusung Koalisi Perubahan. Orang hanya melihat Khofifah NU, dia ga tau NU juga sudah terbelah-belah juga. Bukan organisasi NU nya, tapi afiliasinya sudah ke PKB, PPP, Golkar, Nasdem sedikit. Anies-AHY bagus," ujar Zulfan.
Djayadi setuju dengan mengatakan AHY bukan pilihan yang buruk untuk mengambil Jawa Timur karena keluarga SBY berbasis di Jawa Timur.
"Ibas itu termasuk punya suara paling besar di Pacitan, sekitar Blitar. Daerah Mataraman yang biasanya PDIP tapi yang untuk Pacitan, Blitar termasuk Trenggalek itu AHY saya kira bisa kuat di situ. Ada kekuatannya," ujar Djayadi.
Secara simulasi pasangan, Djayadi mengatakan Anies-Khofifah dan Anies-AHY perbedaan suaranya tidak jauh-jauh amat. Yang bisa membedakan keduanya menurut dia adalah soal kelemahan kualitatif.
"Dalam konteks dukungan kualitatif itu, orang pro Khofifah akan bilang Khofifah bisa unggul secara kualitatif," ujarnya.
Ini berkaca dari Pilgub Jawa Timur tahun 2018 di mana Khofifah berhadapan dengan PKB bersama PDIP, dua kekuatan utama di Jawa Timur secara partai.
"Ternyata pemilih perempuan di Jawa Timur, sekitar 54 persen memilih Khofifah. Yang laki-laki terbelah dua. Keunggulan Khofifah waktu itu ada di kaum perempuan. Ketua Muslimat NU. Hitung-hitungannya masih dinamis," ujar Djayadi.
Namun Zulfan Lindan mengingatkan, AHY memegang kunci koalisi karena dia yang bisa menentukan apakah Koalisi Perubahan bisa lolos presidential treshold untuk mengusung pasangan capres-cawapres di Pilpres 2024.