Suara Sumatera - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengungkap ada calon presiden (capres) yang sedang mendekati negara Amerika Serikat.
Pendekatan capres tersebut menurut Hendropriyono agar pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2024 tidak diganggu oleh negara adidaya tersebut.
Hal ini diungkapkan Hendropriyono saat berbincang dengan Prof Rhenald Kasali di Youtube Rhenald Kasali.
Awalnya Hendropriyono membahas mengenai adanya pergeseran konflik dari Eropa Timur ke Afrika Barat lalu ke Laut China Selatan.
Konflik di Laut China Selatan ini melibatkan Amerika Serikat dan China sendiri mengingat adanya bantuan China ke Rusia pada perang melawan Ukraina.
"Jadi Laut China Selatan harus dibakar. Mulailah seluruh Asia Tenggara ini digalang. Pemerintah yang tidak pro CIA, harus digulingkan. Kita lihat kemenangan Bongbong (Filipina) dan Anwar Ibrahim (Malaysia)," ujar Hendro.
Hendropriyono lalu mencontohkan kekalahan junta militer di salah satu negara dalam Pemilu. Menurut guru besar Filsafat Intelijen ini, Pemilu tersebut sudah dirancang sedemikian rupa agar junta militer yang menang. Faktanya saat Pemilu digelar, junta militer malah kalah.
"Dan yang paling hebat prof, Junta militer itu kan bikin Pemilu. Jadi mereka bikin pemilu yang sudah pasti menang Junta militer, kalah. Ternyata kalah. Dia tuh bingung kok bisa kalah padahal tembok ini tidak ada yang bisa dengar," ujar Hendro.
Analisa Hendro, kekalahan junta militer ini terjadi karena campur tangan Amerika Serikat lewat teknologi IT yang sudah begitu canggih.
Baca Juga: Polisi Setop Razia Tilang Uji Emisi Padahal Dapat Dana Hibah, PSI Minta Aparat Jangan Malas
"Berarti permainan IT nya sudah sebegitu canggih. Artificial intellegence masuk perhitungan suara. Suara yang di sini sini kumpulkan ke situ semua," kata dia.
"Makanya ada salah satu capres kita sekarang sedang mendekati ke sana (Amerika) supaya tolong kita jangan diganggu. Kalau diganggu perhitungan cepat dan sebagainya bisa kacau," papar Hendro.
Menurutnya, siapa saja yang tidak disukai oleh Amerika Serikat akan dikerjai.
"Terus saya bilang ini, kalau Singapura siap kenapa kita ga siap. Kalau dia sebagai subyek di geopolitik Asia Tenggara, obyeknya siapa pak? ya kita lah pak siapa lagi. Kan kita pro China dinilainya. Kitalah obyeknya masa obyeknya yang pro Amerika," ujar dia lagi.
Rhenald Kasali lalu memaparkan data bahwa China banyak berinvestasi di Indonesia yang totalnya Rp 175 triliun pada Juni 2023.
"Nomor satu Singapura, nomor dua Hong Kong baru China. Hong Kong juga bagian dari China," kata Rhenald Kasali.