3. Mediasi tak sepenuhnya gagal
Berbeda dari pendapat Dedi Mulyadi yang menyebutkan tidak sepenuhnya mediasi gagal.
Pasalnya, dalam mediasi perkara hak asuh anak semula menjadi pokok perkara berhasil diselesaikan, sehingga anak menjadi hak asuh kedua belah pihak.
"Saya sebenarnya menghadapi seorang istri yang baik. Menurut saya Embu (panggilan kang Dedi kepada istrinya) itu adalah istri yang baik, tetapi Embu sayang keluarga kemudian sangat hormat, dan patuh pada gurunya. Itu yang menjadi sesuatu barangkali kegelisahan dia antara ketaatan pada guru, dan ketaatan pada suami," kata Dedi Mulyadi.
4. Jawab tuduhan KDRT
Mengenai tuduhan KDRT psikis, Dedi Mulyadi menerangkan, bahwa dalam undang-undang disebutkan ciri wanita atau istri yang mengalami hal tersebut.
Dikatakan Dedi Mulyadi, tanda-tanda itu seperti murung secara terus menerus, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak bisa mengambil keputusan.
Jika dilihat dari hal itu, menurut Dedi Mulyadi, tentu saja sang istri yang sekarang ini menjadi Bupati Purwakarta tidak mengalami ketiga ciri tersebut.
"Pertanyaannya adalah apakah ada tanda-tanda itu pada Embu Anne? murung terus, tidak bisa mengambil keputusan, kehilangan rasa percaya diri, menurut saya terbalik, Embu sebagai bupati saat ini justru sangat pede (percaya diri)," kata Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Di Depan Atta Halilintar Maia Estianty Ngeluh Jadi Istri Iwan Mussry karena Hal ini
5. Segi ekonomi
Dedi Mulyadi kemudian menyebutkan soal segi ekonomi keluarga, semua sudah tercukupi, terlebih lagi Anne Ratna Mustika sebagai bupati banyak difasilitasi oleh negara mulai dari makan, minum, mobil, pakaian hingga ajudan.
Bahkan, ketiga anaknya hidup serba berkecukupan. "Anak paling besar sudah hampir selesai di Unpad, yang kedua masuk di Unpar fakultas hukum biayanya dari mulai uang masuk sampai biaya kos saya yang jamin, yang bungsu lagi lucu-lucunya diasuh oleh Teh Elis, biaya pengasuhannya gaji tiap bulan saya yang menjamin, karena tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga," kata Dedi Mulyadi.(*)