Sebaliknya, jika kamu mengalami hiperventilasi, bernapaslah dengan tenang. Tutup mulut kamu dan bernapas dengan tenang melalui hidung, dengan lembut, dan selambat mungkin untuk memulihkan kadar karbon dioksida.
Orang cenderung bernapas lebih cepat saat cemas, yang dapat membuat mereka pusing serta menyebabkan lebih banyak kecemasan.
Cara kamu bernapas ialah dengan kecepatan enam hingga delapan kali per menit, itu memberi isyarat pada tubuh bahwa semuanya baik-baik saja.
3. Berolahraga secara Teratur
Kita tahu bahwa olahraga itu baik untuk kesehatan fisik kita, tetapi penelitian juga menemukan bahwa aktivitas fisik yang rendah berhubungan dengan kecemasan.
Peneliti telah menemukan bahwa olahraga seperti berlari mengaktifkan bahan kimia otak yang dapat mengurangi kecemasan.
Menurut Dr Cassiday, jika kamu mengalami kecemasan dan stres, rata-rata orang dapat meminimalkannya dengan berolahraga, melatih gerakan berbasis mindfulness seperti yoga atau Tai Chi.
Latihan aerobik dan non-aerobik juga telah dikaitkan dengan manajemen kecemasan yang lebih baik.
4. Ketahui Pemicu Kamu
Sebuah pemicu tertentu dapat membuat kecemasan terulang kembali atau bahkan memburuk.
Perubahan mendadak dalam hidup seperti memiliki bayi, diberhentikan dari pekerjaan, atau memiliki anak yang sakit dapat menyebabkan kecemasan dan kekhawatiran menjadi berlebihan.
Apa yang terjadi ialah stres yang meningkat di beberapa titik menjadi luar biasa dan mengganggu sistem alarm di otak dan tubuh. Itu bisa imajiner atau nyata dan masih memicu stres yang sama.
Bagi mereka yang mengalami gangguan kecemasan, pemicunya bisa berupa apa saja yang membuat mereka merasa tidak pasti atau seperti kurang memiliki kendali, seperti terbang, keramaian, atau tekanan di tempat kerja, sedangkan bagi mereka yang mengalami serangan panik, pemicunya bisa berupa apa saja. perubahan fisik yang dirasakan.
Perlu diperhatikan juga bahwa serangan panik terjadi tiba-tiba tanpa pemicu sama sekali.
5. Dapatkan Tidur yang Cukup