SUARA SUMEDANG - Bendungan Jatigede atau Waduk Jatigede Sumedang sejatinya dibangun dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Diketahui, Waduk atau Bendungan Jatigede Sumedang merupakan satu di antara waduk terbesari di Indonesia.
Melansir dari disparbud.jabarprov.go.id, Waduk Jatigede memiliki luas lebih kurang sekitar 4.983 hektar.
Diketahui, tujuan dibangunnya Waduk Jatigede ini tidak lain agar menjadi tempat penampungan air.
Tak hanya itu, pembangunan waduk itu juga diharapkan dapat menjadi pengendali banjir, pembangkit listrik hingga jadi tempat wisata favorit di Provinsi Jawa Barat.
Diketahui, untuk pertama kalinya, Waduk Jatigede diresmikan pada 2015 lalu, dan baru beroperasi penuh dua tahun setelahnya.
Di lain sisi, pembangunan waduk terbesar tersebut tentunya tidak sedikit memakan biaya.
Dilansir dari Kementerian PUPR, total biaya pembangunan mencapai USD 239,57 juta (Rp. 2,2 triliun) dengan perincian USD 196,55 juta (Rp. 1,788 trilun) dari pinjaman Republik Rakyat China (RRC) dan USD 43,02 juta (Rp. 391,49 milar) berasal dari APBN, nilai yang begitu fantastis.
Namun, kini beredar kabar di media sosial bahwa Waduk Jatigede tengah surut alias kekeringan. Seperti dibagikan akun TikTok@JejakPilemburan.
Baca Juga: Waduk Jatigede Sumedang Surut, Jalanan Ini Kembali Terlihat dan Dilalui Warga
Lantas, pentingkah pembangunan Waduk Jatigede dengan memakan biaya fantastis namun di lapangan tak sesuai kenyataan?
Meski begitu, rupanya tak banyak yang tahu kalau Waduk Jatigede sudah direncanakan sejak zaman Hindia Belanda.
Diketahui, pemerintah Hindia Belanda saat itu telah berencanan membuat tiga waduk id sepanjang aliran Sungai Cimanuk dan Waduk Jatigede merupakan waduk utama yang paling besar.
Namun rencana tersebut gagal direalisasikan karena mendapat penolakan dari masyarakat Sumedang.(*)