Resesi global menimbulkan kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah yang makin ketar-ketir. Kini, kurs rupiah sudah menyentuh angka Rp15.263 terhadap dolar AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/9/2022) sore ditutup melemah seiring pasar yang masih diselimuti kekhawatiran terjadinya resesi.
Resesi diprediksi punya andil terhadap IHSG ditutup melemah 40,83 poin atau 0,58 persen ke posisi 7.036,2.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,47 poin atau 0,44 persen ke posisi 1.009,04.
"IHSG di akhir perdagangan mengalami koreksi sedangkan bursa regional Asia sebagian menguat yang masih disokong karena dorongan dari aksi mengejutkan pembelian obligasi oleh Bank of England di tengah kekhawatiran atas rencana fiskal dan tantangan ekonomi Inggris," tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta.
Resesi global juga membuat nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore belum membaik.
Rupiah ditutup menguat empat poin atau 0,03 persen ke posisi Rp15.263 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.267 per dolar AS.
Praktisi Perbankan, Abiwodo menilai mengatakan kredit di sektor UMKM juga bisa menjadi pendorong RoE untuk menjaga ketahanan perbankan, terutama UMKM yang mempunyai orientasi ekspor dan ditopang dengan ekosistem digital yang mumpuni.
Sementara di lini konsumer, perbankan perlu melakukan strategi cross selling atau menjual produk berbeda dengan nasabah korporasi dan UMKM untuk produk-produk seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Baca Juga: Kanker Usus Bisa Terjadi Karena Sembelit Yang Dibiarkan Terus-menerus
Sejatinya, menurut Abiwodo, jurus menjaga ketahanan perbankan tersebut sudah diterapkan oleh bank-bank pelat merah alias BUMN, contohnya PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang sudah mengimplementasikannya untuk mendukung strategi pertumbuhan RoE hingga tiga tahun ke depan.
BNI optimistis langkah tersebut bisa meningkatkan RoE lebih dari 18 persen pada 2025. Terbukti, posisinya per Juni 2022 sudah mencapai 15,1 persen.
"Jadi meski ekonomi global melambat dan terancam krisis keuangan, bisa saja Indonesia tidak terpengaruh secara signifikan jika pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan perbankan tetap waspada dan saling menjaga," ungkapnya.
Dirinya menuturkan perekonomian Indonesia saat ini memang masih cukup baik, dengan neraca perdagangan yang masih surplus dan cadangan devisa yang relatif stabil.
Tetapi, risiko arus modal asing keluar dan perlambatan ekonomi akibat naiknya suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang hawkish wajib diwaspadai.