Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo, Tengger, dan Semeru (BB TNBTS), Hendro Wijarnako, menjelaskan setidaknya ada 500 hektare (ha) lahan dan hutan di kawasan Gunung Bromo yang terdampak kebakaran, berdasarkan data hingga 11 September 2023.
Kebakaran yang terjadi di Blok Savana Lembah Watangan atau yang dikenal sebagai Bukit Teletubbies itu diduga terjadi akibat flare yang dinyalakan pada saat sesi foto pre-wedding. Diketahui, para pelaku diminta untuk membayar denda sebesar Rp 1,5 miliar.
Akan tetapi, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menilai bahwa denda tersebut masih kurang apabila dibandingkan dengan biaya operasional heli water bombing.
"Saya cuma akan berbicara Rp 1,5 miliar. Biaya operasional water bombing itu satu sorti. Satu jam sudah lebih dari Rp 200 juta dan belum tuntas saat ini mungkin (masih) kurang karena seperti yang kita lihat di (Gunung) Arjuna saja itu operasi water bombing kita sudah lebih dari empat hari," katanya kepada wartawan.
Abdul menerangkan bahwa hal tersebut bisa menjadi evaluasi bagi masyarakat akan betapa pentingnya mencegah dan menghindari keteledoran yang menyebabkan terjadinya kebakaran.
Terlebih lagi, 90 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebabkan oleh perbuatan manusia baik langsung maupun tidak langsung.
"Kerugian ekonomi mungkin bisa kita bayar. Tapi kerugian ekologi mungkin butuh waktu untuk merestorasi," ujarnya.
Semoga kejadian ini bisa dijadikan pelajaran dan tidak kembali terulang, ya.