Siti mencontohkan, hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang menduga TB merupakan penyakit yang diakibatkan perilaku tidak bermoral dan dianggap tidak bisa disembuhkan.
"Faktor yang mempengaruhi stigma sendiri adalah ketakutan irasional dan kurangnya pengetahuan tentang TB," jelas Siti.
TB Stigma Assesment dilakukan antara September 2021 hingga Mei 2022 terhadap 3200 responden dari 40 kota dan kabupaten di 8 provinsi dengan jumlah kasus TB tertinggi di Indonesia, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Responden TB Stigma Assesment terdiri atas empat kelompok, yakni orang dengan TB, anggota keluarganya, tetangganya, dan tenaga kesehatan.
Jumlah responden dari kelompok orang dengan TB sendiri adalah 1.280 orang atau 40 persen dari total responden.
"Sebanyak 35 persen dari orang dengan TB menyatakan mengalami stigma dan karenanya menghambat mereka mencari dan mengakses layanan kesehatan untuk mengobati TB," tukas Siti.