TANTRUM - Larangan impor batu bara Rusia yang diberlakukan blok Uni Eropa langsung melambungkan harga batu bara.
Pada perdagangan Rabu (10/8/2022), harga batu kontrak September di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 401 per ton. Melesat 6,93% dibandingkan hari sebelumnya.
Penguatan kemarin memperpanjang tren positif batu bara yang sudah berlangsung sejak Senin pekan ini setelah ambruk pada pekan sebelumnya. Penguatan juga membawa harga batu bara kembali ke level psikologis US$ 400 per ton.
Secara keseluruhan, harga batu bara sudah melonjak 5,93% dalam sepekan secara point to point. Namun dalam sebulan, harga batu bara masih amblas 6,04%.
Dicuplik dari CNBC, Kamis, 11 Agustus 2022, negara-negara Uni Eropa resmi melarang impor batu bara Rusia mulai kemarin (Rabu, 10/8/2022). Larangan impor tersebut merupakan bagian dari paket sanksi kelima yang diberikan Uni Eropa atas serangan Rusia ke Ukraina.
Kebijakan larangan impor tersebut berlaku di tengah tingginya permintaan batu bara dari Eropa karena sejumlah negara akan mengoperasikan kembali pembangkit batu bar mereka.
Kondisi diperparah dengan tersendatnya pasokan gas dari Rusia serta semakin menyusutnya permukaan Sungai Rhine yang membuat lalu lintas ekspor di Jerman terhambat.
Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin berada di kisaran EUR 205,37 per megawatt-jam. Harga gas tersebut adalah yang tertinggi sejak 8 Maret 2022.
Harga melambung karena kekhawatiran menipisnya pasokan untuk musim dingin kembali menguat. Kenaikan harga gas langsung berimbas pada harga batu bara karena pasir hitam merupakan sumber energi alternatif.
Sementara itu, permukaan sungai Rhine di Jerman kini menyusut hingga ke kisaran 40 cm. Dengan permukaan serendah itu Sungai Rhina tidak bisa dilalui kapal pengangkut komoditas ekspor.
Padahal, Rhine berkontribusi 80% terhadap lalu lintas perdagangan barang melalui jalur sungai di Jerman.
Fitch Solutions mengatakan larangan impor batu bara Rusia akan melambungkan harga batu bara melalui dua cara yang berbeda.
Pertama, kebijakan tersebut akan membuat permintaan impor kepada negara produsen batu bara seperti Indonesia dan Australia melesat.
Kedua, rencana Eropa untuk menggantikan pasokan gas Rusia akan membuat permintaan gas berkurang dan sebaliknya permintaan batu bara akan meningkat.
Dengan kondisi seperti itu, Fitch memperkirakan harga batu bara akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.