TANTRUM - Setiap orang memiliki pemahaman tentang keperawanan yang berbeda-beda. Ada yang menganggap keperawanan sangat penting dan ada juga yang menganggap sebaliknya: keperawanan bukan sesuatu hal yang terlalu penting dalam memilih pasangan.
Sebelum pembahasan lebih jauh, sebenarnya apa definisi dari perawan itu? Karena masih banyak di antara kita yang berdebat tentang keperawanan dengan definisinya masing-masing.
Bahkan perbedaan pendapat dapat mewujudkan ketidakadilan gender tentang label keperawanan terhadap perempuan.
Ada stigma di balik label keperawanan. Perempuan kerap kali mendapatkan label negatif dari masyarakat, padahal ketika ditanya apa itu perawan mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda pula.
Kenyataannya, anggapan subjektif tidak bisa dijadikan pegangan utuh untuk menghakimi siapa benar dan salah.
Di sisi lain, tak ada yang mempersoalkan keperjakaan. Ada pula anggapan laki-laki yang sudah kehilangan keperjakaannya seolah “disambut” dengan bangga; seolah dia berhasil membuktikan kejantanannya.
Definisi Perawan
Perawan didefinisikan sebagai perempuan yang belum pernah berhubungan seksual, menurut postingan Instagram @tabu.id pada Selasa (27/09/2022)
Sementara dilingkungan sosial kita, terdapat perbedaan cara mengartikan keperawanan dengan hubungan seksual.
Misalnya, hubungan seksual diartikan hanya sebatas hubungan penetratif. Sementara hubungan non-penetratif sebagai aktivitas seksual.
Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa anggapan kita tentang keperawanan ditentukan oleh cara pandang kita. Entah dilatarbelakangi oleh paradigma dan konstruksi sosal, dan budaya.
Sementara kita tidak melengkapi pemahaman kita secara medis dan pengetahuan ilmiah.
Selaput Dara Bukti Keperawanan
Pasti Anda pernah mendengar selaput dara sebagai bukti objektif keperawanan seseorang. Nah, definisi dari selaput dara sendiri yaitu jaringan tipis yang terletak di lubang vagina.
Adapun anggapan bahwa selaput dara adalah bukti keperawanan seseorang tentu ini anggapan yang kurang tepat.
Karena tidak semua perempuan terlahir memiliki selaput dara. Bahkan selaput dara juga dapat mengalami robek saat beraktivitas fisik, seperti bersepeda.
Ada juga selaput dara yang tidak robek walaupun sudah melakukan aktivitas seksual penetratif. Hemm, jadi bagaimana cara membedakan perempuan yang masih perawan dan yang sudah tidak perawan?
Dampak dari Stigma Keperawanan
Stigma negatif sosial tentang keperawanan perempuan tentu memberikan dampak terhadap psikologi perempuan yang bersangkutan.
Entah merasakan malu, bersalah, atau takut dicemooh. Yang pasti stigma negatif tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental.
Lebih jauh lagi stigma tersebut dapat mengganggunya untuk melaporkan tidakan kekerasan seksual yang dialami kepada pihak yang berwenang.
Selanjutnya, ia juga enggan untuk melakukan konsultasi kepada tenaga kesehatan karena dianggap telah melakukan tindakan amoral.
Hingga pada akhirnya timbul rasa tidak percaya diri untuk mencari dan mendapatkan informasi penting terkait kesehatan seksual.
Intinya, setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang keperawanan ini. Oleh karenanya kita harus menghargai mereka yang memilih dan menerapkan prinsip seksualitas yang berbeda.
Lebih penting dari itu ialah kita mampu untuk saling menghargai perbedaan persepsi, karena pada prinsipnya setiap manusia sama-sama berharga. (Muhamad Hasanudin)