SUARA TASIKMALAYA - Dalam negara demokrasi, seseorang berpindah-pindah partai adalah hal normal. Terlebih mendekati pemilu, orang akan melihat partai mana yang memiliki peluang menang, maka akan masuk di dalamnya.
Termasuk soal dukungan dalam pemilihan persiden 2024 nanti, seorang politisi akan melihat arah kemenangan lebih kencang pada calon presiden yang mana.
Dalam hal ini, bukan melarang orang keluar dan masuk partai mana, akan tetapi lebih pada evaluasi internal, kenapa "jualannya" sampai tidak laku.
Hal ini kemungkinan tergambar pada keputusan Budiman Sudjatmiko yang lebih memilih Prabowo Subianto untuk meneruskan perjuangan lima tahun ke depan sebagai presiden.
Dikatakan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Habiburokhman, dirinya tidak bisa mencegah Budiman Sudjatmiko atau orang lain memberikan dukungan ke Prabowo Subianto untuk Pilpres 2024.
Dalam konteks apapun kata dia, dukungan tersebut juga tidak bisa disalahkan. Dia melihat apa yang menjadi pilihan Budiman Sudjatmiko secara terang-terangan kepada Prabowo sebagai capres di Pilpres 2024 adalah hal normal.
"Kita kan tidak bisa mencegah orang (Budiman Sudjatmiko) mendukung, sama halnya kita tidak bisa mencegah kader kami, misalnya tak mendukung Pak Prabowo," kata Habiburokhman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/8/2023).
Kemudian dia membandingkan bagaimana Gerindra tidak mempermasalahkan saat Sandiaga Uno memilih keluar dan bergabung dengan PPP.
Dijelaskannya, Budiman hanya sebagai satu di antara contoh dari banyak kader partai lain yang menyatakan dukungan terhadap Prabowo.
Baca Juga: Kiper Adi Satryo Dibully Netizen Akibat Perlakuannya ke Pemain Persib Arsan Makarim
Dengan dukungan dari kader lain, tegas dia, tidak bisa siapapun menyalahkan Gerindra dan Prabowo Subianto.
"Pak Budiman (Kader PDIP), ya pasti banyak lagi yang namanya orang dari luar Partai Gerindra mendukung Gerindra, dan kami tidak pernah menyalahkan partai orang," tuturnya.
"Kamu gak mau bersikap buruk muka di cermin dibelah, itu kan soal aspiras, ya demokrasi," sambungnya.
Ia lantas memberikan sindiran, jika memang ada partai lain yang kadernya tidak mau mendukung calon presiden yang diusung partainya sendiri, maka tidak bisa menyalahkan partai politik lainnya.
"Orang kalau tidak mendukung capres dari partai kita, kita evaluasi di internal dong, kok kita nyalahin partai orang, itu kan bisa jadi kita lama-lama ditertawakan kalau begitu. Ya itu apa namanya kita tegakan antara internal betul, tapi kalau menyalahkan partai orang kita bingung," ujarnya.
Saat ditanya lebih lanjut, apakah sindirannya tersebut untuk meminta PDIP intropeksi diri, Habiburokhman enggan memberikan respons.