Masyarakat Desa Tinggarsari, Kabupaten Buleleng, Bali menemukan ribuan batuan megalitikum berbentuk balok besar berlokasi di wilayah pegunungan desa setempat.
"Lokasi bebatuan tersebut tepat berada di bawah Pura Batur Gangsian, Pura pemujaan untuk kemakmuran di desa kami," kata Kepala Desa Tinggarsari, Ketut Parbawa, Senin (1/2/2016).
Ia menjelaskan, ribuan batu balok tersebut berdiameter sekitar 60 cm tersusun rapi seakan-akan menopang bangunan Pura yang berada di atas perbukitan.
"Kalau batu biasa saja tidak mungkin bentuknya sama (balok) dan tersusun rapi seperti itu," katanya.
Menurutnya, luas perbukitan yang ditanami balok-balok mencapai sekitar empat hektare dan tidak diketahui secara pasti asal muasal keberadaan bebatuan itu. Ditambahkannya, tak ada prasasti terkait penemuan kawasan bebatuan tersebut.
"Di sekitarnya tidak ditemukan prasasti dan tidak ada bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan susunan bebatuan tersebut," katanya.
Sementara itu, dari cerita rakyat yang berkembang, balok-balok batu itu terbentuk karena akan adanya pembentukan gunung yang tidak jadi terbentuk.
Namun cerita ini dibantah Parbawa, karena bebatuan itu tersusun secara rapi sehingga sulit rasanya disebabkan karena faktor alam secara alami. Dia memperkirakan pada zaman dahulu kala telah ada peradaban manusia sebelum berdirinya desa.
"Mungkin saja dulu ada peradaban yang ingin buat candi atau semacamnya. Kalau secara alami, batu itu tidak mungkin berukuran sama berupa balok-balok," ucapnya.
Sejarawan yang juga akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, I Made Pageh Mhum menduga situs bebatuan berbentuk balok di Desa Tinggarsari ini kemungkinan dibuat manusia masa prasejarah tepatnya zaman megalitikum.
"Kami akan teliti lebih lanjut nanti, tetapi dari hipotesa sementara batu itu berjenis megalitikum terlihat dari bentuknya yang unik berupa ribuan batu balok berukuran hampir sama antara satu dengan yang lainnya," kata Pageh di Undiksha Singaraja, Bali, Senin.
Menurut dia, keberadaan situs bebatuan tua tersebut diperkirakan suatu tempat pemujaan besar di wilayah itu.
"Pemujaan masa prasejarah bisa dipastikan sebagai pemujaan kehadapan leluhur sebagai pelindung dan pemberi kemakmuran," imbuhnya.
Ia memperkirakan situs bebatuan di Tinggarsari memiliki kemiripan dengan beberapa peninggalan prasejarah Pulau Dewata yang sudah dikenal seperti situs megalitik Pura Gelgel di Kabupaten Klungkung, Pura Pancering Jagat di Kawasan tua Trunyan Bangli dan kawasan prasejarah lainnya.
"Bali dan Buleleng khususnya memang memiliki beberapa situs kuno megalitikum dan hingga saat ini beberapa batu ditemukan dan sudah diteliti tim arkeolog," katanya. (Antara)