Studi: Bumi Pernah Diselimuti Kegelapan Selama 2 Tahun

Liberty Jemadu | Suara.com

Jum'at, 25 Agustus 2017 | 08:32 WIB
Studi: Bumi Pernah Diselimuti Kegelapan Selama 2 Tahun
Ilustras asteroid menghantam Bumi. [Shutterstock]

Suara.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa Bumi pernah mengalami kegelapan selama hampir dua tahun, yang mengakibatkan punahnya sekitar 75 persen dari seluruh spesies yang hidup di permukaan planet ini.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 21 Agustus kemarin itu mengungkapkan bahwa sekitar 65,5 juta tahun silam sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dan menyebabkan matahari hilang dari langit selama hampir dua tahun.

Kegelapan berkepanjangan ini disebabkan, salah satunya, oleh awan abu yang berasal dari kebakaran yang sangat luas di Bumi. Tanpa sinar matahari, tumbuh-tumbuhan di Bumi tak bisa berfotosintesis dan planet menjadi sangat dingin.

Dua faktor inilah yang menyebabkan rusaknya rantai makanan di Bumi dan memicu salah satu kepunahan massal - ketika spesies-spesies dinosaurus lenyap - dalam sejarah Bumi.

Asteroid berdiameter hampir 10km itu menghantam kawasan yang kini kita kenal sebagai Semenanjung Yucatan, Meksiko dan diduga memicu gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung-gunung berapi.

Hujan Api

Selain itu, tabrakan antara asteroid dengan permukaan Bumi juga menyebabkan batuan hancur lebur hingga menguap ke atmosfer. Di lapisan atmosfer, batuan-batuan tadi kembali memadat menjadi partikel-partikel kecil yang disebut spherule.

Ketika spherule ini kembali menghujani Bumi, mereka saling bergesekkan, dan memantik hujan api di seluruh permukaan Bumi. Sisa-sisa spherule ini, menurut para ilmuwan, masih bisa ditemukan saat ini.

Sebagian besar binatang darat pada masa itu langsung mati akibat hantaman asteroid, tetapi "binatang yang hidup dalam laut atau yang bisa bersembunyi di dalam tanah atau air, selamat," demikian kata Charles Bardeen, ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Boulder, Colorado, AS, yang memimpin studi tersebut.

"Studi kami berusaha mengungkap kisah setelah tabrakan - setelah gempa bumi, tsunami, dan pemanasan ekstrem menerpa Bumi," jelas Bardeen.

"Kami ingin meneliti konsekuensi jangka panjang dari hujan abu yang tercipta setelah benturan dan bagaimana konsekuensi itu memengaruhi mahluk-mahluk hidup yang tersisa," beber dia lebih lanjut.

Dalam studi ini Bradeen dkk menggunakan Community Earth System Model (CESM), sebuah pemodelan iklim-kimiawi modern yang memperhitungkan faktor-faktor terkait atmosfer, daratan, lautan, dan lautan es dalam analisisnya.

Dengan pemodelan ini para ilmuwan bisa membuat simulasi tentang efek awan abu di atmosfer terhadap Bumi dalam jangka waktu tahunan setelah jatuhnya asteroid di Bumi.

Awan Abu

Menurut Bardeen beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ada beberapa jenis partikel, seperti debu, sulfat, dan abu atau jelaga yang melesat ke angkasa setelah asteroid menghantam Bumi.

"Semua partikel ini bisa memblok sinar matahari, tetapi hanya awan abu yang bisa memanaskan stratosfer dan mengurangi sinar matahari di permukaan Bumi hingga pada tingkat yang sangat rendah," kata Bardeen.

Dalam penelitian itu para ilmuwan juga menggunakan hasil penelitian sebelumnya yang memperkirakan bahwa awan abu atau jelaga yang tercipta akibat jatuhnya asteroid itu bobotnya sekitar 15.000 juta ton.

"Studi kami menunjukkan bahwa (dengan jumlah sebanyak itu) abu bisa membuat Bumi cukup gelap sehingga tumbuhan tak bisa berfotosintesis selama dua tahun," imbuh Bardeen.

Bardeen mengatakan fenomena ini punya efek dasyat, terutama bagi mahluk hidup di lautan yang sangat mengandalkan phytoplankton sebagai sumber makanan utama.

"Kehilangan sumber makanan ini merupakan bencana bagi keseluruhan rantai makanan," ujar dia.

Mengikis Ozon

Selain menghentikan fotosintesis, awan abu yang menyelimuti Bumi juga memblok panas matahari sehingga tak bisa mencapai permukaan Bumi.

Sekitar setahun setelah jatuhnya asteroid, suhu di daratan turun sebesar 28 derajat Celcius dan suhu di lautan turun hingga 11 derajat Celcius.

Sebaliknya suhu di stratosfer memanas, karena awan abu yang melayang di area itu menyerap panas matahari. Suhu panas ini diperkirakan telah mengikis lapisan ozon dan menyebabkan sejumlah besar uap air mengisi stratosfer. Ketika uap air ini bereaksi secara kimiawi dengan stratofer, maka akan tercipta hidrogen yang semakin merusak lapisan ozon.

Ketika lapisan ozon semakin tipis dan awan abu menipis, sinar ultraviolet matahari - yang tadinya disaring oleh ozon - menerpa Bumi dan kembali merusak kehidupan di planet kita.

Saat lapisan stratosfer mulai dingin, uap air di sana kemudian berubah menjadi hujan dan menyapu awan abu di atmosfer. Seiring dengan menipisnya awan abu, suhu di stratosfer menjadi lebih dingin sehingga uap-uap air berubah menjadi partikel es. Partikel-partikel es ini pada gilirannya menyapu lebih banyak awan abu di langit.

Proses ini terus berulang, sehingga awan abu ini pada akhirnya hilang dari atmosfer dalam hitungan bulan saja. (Live Science)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mengenal Asteroid 2025 PN7, Bulan Kedua yang Mengorbit Bersama Bumi

Mengenal Asteroid 2025 PN7, Bulan Kedua yang Mengorbit Bersama Bumi

Tekno | Sabtu, 25 Oktober 2025 | 07:00 WIB

Ilmuwan Pastikan Kawah Silverpit di Laut Utara Tercipta akibat Asteroid

Ilmuwan Pastikan Kawah Silverpit di Laut Utara Tercipta akibat Asteroid

Tekno | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 19:10 WIB

NASA Siapkan Opsi Nuklir untuk Cegah Asteroid Tabrak Bulan

NASA Siapkan Opsi Nuklir untuk Cegah Asteroid Tabrak Bulan

Tekno | Senin, 29 September 2025 | 18:49 WIB

NASA Pastikan Asteroid Raksasa Tidak Ancam Bumi, Tapi Potensi Tabrakan dengan Bulan

NASA Pastikan Asteroid Raksasa Tidak Ancam Bumi, Tapi Potensi Tabrakan dengan Bulan

Tekno | Minggu, 06 April 2025 | 16:01 WIB

Ilmuwan Prediksi Ancaman Asteroid Sebesar Lapangan Bola Menabrak Bumi, Potensi Kiamat?

Ilmuwan Prediksi Ancaman Asteroid Sebesar Lapangan Bola Menabrak Bumi, Potensi Kiamat?

Tekno | Senin, 03 Maret 2025 | 14:07 WIB

NASA Pastikan Asteroid 2024 YR4 Tidak Mengancam Bumi dalam Waktu Dekat

NASA Pastikan Asteroid 2024 YR4 Tidak Mengancam Bumi dalam Waktu Dekat

Tekno | Rabu, 26 Februari 2025 | 07:02 WIB

Asteroid Sebesar Patung Liberty Ancam Bumi di 2032, Nuklir Jadi Opsi?

Asteroid Sebesar Patung Liberty Ancam Bumi di 2032, Nuklir Jadi Opsi?

Tekno | Senin, 24 Februari 2025 | 09:05 WIB

Apakah Asteroid 2024 YR4 Akan Menghantam Bumi di 2032?

Apakah Asteroid 2024 YR4 Akan Menghantam Bumi di 2032?

Tekno | Jum'at, 21 Februari 2025 | 13:46 WIB

Daerah Terpadat yang Berisiko Jika Asteroid Pembunuh Kota Menabrak Bumi

Daerah Terpadat yang Berisiko Jika Asteroid Pembunuh Kota Menabrak Bumi

Tekno | Kamis, 20 Februari 2025 | 08:13 WIB

Peluang Tabrakan Asteroid 2024 YR4 Meningkat: Apa Artinya bagi Bumi?

Peluang Tabrakan Asteroid 2024 YR4 Meningkat: Apa Artinya bagi Bumi?

Tekno | Kamis, 20 Februari 2025 | 06:44 WIB

Terkini

31 Kode Redeem FC Mobile 14 April 2026, Klaim Hadiah Menarik dan Peluang OVR 116 Gratis

31 Kode Redeem FC Mobile 14 April 2026, Klaim Hadiah Menarik dan Peluang OVR 116 Gratis

Tekno | Selasa, 14 April 2026 | 07:21 WIB

69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut

69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut

Tekno | Selasa, 14 April 2026 | 07:18 WIB

IGRS Banyak Celah: Diduga Bocorkan Game AAA, Indonesia Dapat Sorotan Internasional

IGRS Banyak Celah: Diduga Bocorkan Game AAA, Indonesia Dapat Sorotan Internasional

Tekno | Selasa, 14 April 2026 | 06:50 WIB

Terpopuler: Tipe HP Tecno yang Bagus, Deretan HP Gaming Terbaru 2026

Terpopuler: Tipe HP Tecno yang Bagus, Deretan HP Gaming Terbaru 2026

Tekno | Selasa, 14 April 2026 | 06:35 WIB

Komet Langka Muncul Setelah 170 Ribu Tahun, Begini Cara Melihatnya dari Indonesia

Komet Langka Muncul Setelah 170 Ribu Tahun, Begini Cara Melihatnya dari Indonesia

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 21:40 WIB

5 HP Infinix 5G Paling Worth It di Tahun 2026, Cocok untuk Gaming dan Streaming

5 HP Infinix 5G Paling Worth It di Tahun 2026, Cocok untuk Gaming dan Streaming

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 21:10 WIB

5 Tablet Snapdragon Terbaik untuk Multitasking, Performa Ngebut Tanpa Lag

5 Tablet Snapdragon Terbaik untuk Multitasking, Performa Ngebut Tanpa Lag

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 19:14 WIB

3 Rekomendasi Smartwatch Samsung Termurah 2026, Fitur Canggih dan Stylish

3 Rekomendasi Smartwatch Samsung Termurah 2026, Fitur Canggih dan Stylish

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 19:05 WIB

21 Kode Redeem FC Mobile, Prediksi Kompensasi Mewah EA Usai Insiden Bug Voucher

21 Kode Redeem FC Mobile, Prediksi Kompensasi Mewah EA Usai Insiden Bug Voucher

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 18:20 WIB

4 Rekomendasi HP Paket Lengkap Kelas Entry dan Mid-Level, Harga Mulai Rp1 Jutaan

4 Rekomendasi HP Paket Lengkap Kelas Entry dan Mid-Level, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Tekno | Senin, 13 April 2026 | 18:11 WIB