Kiamat Keenam Akan Terjadi pada 2100

Liberty Jemadu | Suara.com

Jum'at, 22 September 2017 | 18:06 WIB
Kiamat Keenam Akan Terjadi pada 2100
Ilustrasi sebuah asteroid melesat sebelum membentur permukaan Bumi. [Shutterstock]

Suara.com - Kiamat sudah pernah terjadi setidaknya lima kali dalam sejarah Bumi. Kiamat di sini menjelaskan peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan sebagaian besar mahluk hidup di Bumi.

Kepunahan massal terakhir terjadi di Periode Crataceous-Tertiary, sekitar 65 juta tahun silam. Pada masa ini dinosaurus punah dan mamalia mulai menguasai Bumi.

Kini, seorang ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat meramalkan bahwa Bumi akan mengalami kepunahan massal keenam pada 2100 mendatang. Jika kiamat-kiamat sebelumnya dipicu oleh fenomena alam, maka kiamat keenam akan disebabkan oleh aktivitas manusia.

Ramalan ini diutarakan Daniel Rothman, pakar geofisika pada MIT, setelah dia meneliti perubahan siklus karbon menjelang terjadinya lima kepunahan massal sebelumnya di Bumi.

Siklus Karbon

Lima kiamat yang pernah terjadi di Bumi, menurut dia, bisa dilacak dengan meneliti karbon. Sebagian besar binatang di Bumi bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Sementara tumbuhan berfotosintesis dengan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.

Bumi secara alamiah memproses karbon dengan menyimpannya di lautan dan atmosfer dalam sebuah siklus. Tetapi gangguan terhadap siklus alam ini bisa memicu perubahan ekstrem terhadap iklim Bumi. Ini bisa terjadi jika jumlah karbon yang dilepaskan bertambah secara drastis dalam waktu yang sangat cepat.

Pelepasan karbon dalam jumlah besar bisa dipicu oleh beragam faktor. Pada kiamat di periode Permian, sekitar 250 juta tahun silam, pelepasan karbon dipicu salah satunya oleh letusan gunung yang sangat besar, yang turut melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer.

Sementara dalam kepunahan massal Crataceous-Tertiary, pelepasan karbon dipicu oleh hantaman asteroid besar yang menyebabkan letusan gunung berapi serta kebakaran besar di hampir seluruh permukaan Bumi.

Tetapi penting diingat bahwa kiamat-kiamat kecil ini terjadi dalam sebuah proses yang memakan waktu ribuan tahun.

Lalu bagaimana dengan ramalan Rothman? Bagaimana hanya dalam tempo sekitar 80 tahun karbon dalam jumlah besar dilepaskan ke atmosfer dan memicu kiamat?

Ambang Batas

Rothman mengembangkan sebuah rumus matematika yang di dalamnya terdapat faktor-faktor seperti kecepatan dan jumlah karbon yang bisa memicu perubahan drastis pada siklus karbon. Dari situ, ia menemukan bahwa ada dua ambang batas yang jika dilewati akan memicu kepunahan massal.

Ambang batas pertama berlaku untuk perubahan yang memakan waktu panjang. Di sini perubahan siklus drastis bisa dipicu jika karbon dilepaskan ke atmosfer terlalu dini, sehingga ekosistem Bumi tak memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi. Sementara dalam jangka pendek, perubahan siklus karbon bisa terjadi jika terlalu banyak karbon yang dilepaskan ke atsmofer.

Rothman lalu mengaplikasikan dua ambang batas itu data-data historis untuk menguji apakah modelnya itu bisa secara akurat memprediksi kepunahan massal di Bumi.

Hasilnya ia berhasil menemukan 31 kali perubahan besar dalam siklus karbon dalam 542 juta tahun terakhir, termasuk di dalamnya ketika terjadi lima kepunahan massal di Bumi. Ia juga mempelajari kecepatan dan jumlah karbon yang terlibat dalam perubahan-perubahan itu.

Dari data-data itu ia kemudian menemukan sebuah ambang batas yang bisa dijadikan sebagai patokan untuk memprediksi kiamat. Garis batas itu sendiri pernah empat kali dilewati, yakni ketika terjadi empat dari lima kepunahan massal di Bumi.

Berdasarkan ambang batas itu dan temuan bahwa siklus karbon di bawah laut bisa mengoreksi diri sendiri kembali ke kondisi normal dalam 10.000 tahun setelah mengalami gangguan, Rothman menghitung berapa banyak karbon yang diperlukan agar ambang batas itu dilewati pada saat ini.

Berdasarkan hitungannya, siklus karbon akan terganggu dan melewati ambang batas jika manusia menghasilkan 310 gigaton karbon.

"Ini bukan berarti bencana akan terjadi besok. Tetapi, jika tidak diawasi maka siklus karbon akan menjadi tak stabil dan perilakunya tak lagi bisa diprediksi. Pada masa lalu, perilaku ini berhubungan dengan kepunahan massal," kata Rothman.

Angka 310 gigaton mungkin terlihat sangat banyak di mata orang awam, tetapi manusia dengan segala aktivitas hariannya punya kemampuan untuk mencapai dan bahkan melewati angka itu dalam waktu dekat.

Menurut laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), sebuah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, manusia akan melepas karbon dioksida sebanyak 300 gigaton ke lautan pada 2100. Dalam skenario yang lebih buruk, jumlah karbon yang dilepas dalam jangka waktu bisa menembus angka 500 gigaton.

"Tentu harus ada cara untuk mencegahnya," kata Rothman, "Tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa kita harus hati-hati dan pentingnya kita mempelajari masa lalu, agar bisa memberikan informasi yang tepat untuk masa depan."

Penelitian Rothman ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances. (New Atlas)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Niat Licik Benjamin Netanyahu Tersebar, Iran Semakin Terdesak

Niat Licik Benjamin Netanyahu Tersebar, Iran Semakin Terdesak

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 11:50 WIB

DUAAARRRR Ledakan Besar Terdengar di Kota Yerusalem, Hujan Rudal Kiamat Iran Makin Brutal

DUAAARRRR Ledakan Besar Terdengar di Kota Yerusalem, Hujan Rudal Kiamat Iran Makin Brutal

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 09:40 WIB

Iran Simpan Bahan Baku Senjata Kiamat di Dalam Tanah, Akhir Dunia Sudah di Depan Mata

Iran Simpan Bahan Baku Senjata Kiamat di Dalam Tanah, Akhir Dunia Sudah di Depan Mata

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 09:24 WIB

India Kiamat Makanan Panas karena Perang AS - Iran, Rakyatnya Dilarang Ngopi

India Kiamat Makanan Panas karena Perang AS - Iran, Rakyatnya Dilarang Ngopi

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 11:24 WIB

Zionis Kiamat! Warga Israel Kocar Kacir Dihujani Rudal

Zionis Kiamat! Warga Israel Kocar Kacir Dihujani Rudal

News | Rabu, 11 Maret 2026 | 16:19 WIB

Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton

Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 17:10 WIB

Kiamat Energi Mengintai, Harga Minyak Dunia Meledak 30 Persen akibat Perang

Kiamat Energi Mengintai, Harga Minyak Dunia Meledak 30 Persen akibat Perang

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 13:54 WIB

Fallout: Ketika Kiamat Dimulai dari Hilangnya Kemanusiaan

Fallout: Ketika Kiamat Dimulai dari Hilangnya Kemanusiaan

Your Say | Rabu, 28 Januari 2026 | 13:20 WIB

Hari Kiamat Versi Ebo Noah Tak Terjadi, Publik Ghana Heran Sang "Nabi" Malah Pamer Mercedes-Benz

Hari Kiamat Versi Ebo Noah Tak Terjadi, Publik Ghana Heran Sang "Nabi" Malah Pamer Mercedes-Benz

News | Jum'at, 26 Desember 2025 | 14:47 WIB

Anggap Banjir Sumatera Tanda Kiamat Sudah Terjadi, Menko Cak Imin Ajak Raja Juli hingga Bahlil Tobat

Anggap Banjir Sumatera Tanda Kiamat Sudah Terjadi, Menko Cak Imin Ajak Raja Juli hingga Bahlil Tobat

News | Selasa, 02 Desember 2025 | 16:46 WIB

Terkini

53 Kode Redeem FF 20 Maret 2026 untuk Klaim SG2 Lumut dan Bundle Joker

53 Kode Redeem FF 20 Maret 2026 untuk Klaim SG2 Lumut dan Bundle Joker

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 19:30 WIB

9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!

9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 15:04 WIB

Spesifikasi PC Crimson Desert, Game Aksi Open World Terbaru dengan Aksi Brutal

Spesifikasi PC Crimson Desert, Game Aksi Open World Terbaru dengan Aksi Brutal

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 15:03 WIB

Kenapa Sinyal Internet Lemot saat Lebaran? Begini 5 Cara Mengatasinya

Kenapa Sinyal Internet Lemot saat Lebaran? Begini 5 Cara Mengatasinya

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 12:10 WIB

10 Cara Merapikan Kabel dan Charger agar Tidak Ruwet

10 Cara Merapikan Kabel dan Charger agar Tidak Ruwet

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 12:07 WIB

Saingi MacBook, Laptop Premium Xiaomi Book Pro 14 Dibanderol Rp19 Jutaan

Saingi MacBook, Laptop Premium Xiaomi Book Pro 14 Dibanderol Rp19 Jutaan

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 11:43 WIB

5 Rekomendasi HP Rp2 Jutaan Chipset Snapdragon Terbaik 2026

5 Rekomendasi HP Rp2 Jutaan Chipset Snapdragon Terbaik 2026

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 11:15 WIB

Tak Lagi Rumor, Starfield Bakal Meluncur ke PS5 Bulan Depan

Tak Lagi Rumor, Starfield Bakal Meluncur ke PS5 Bulan Depan

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 10:05 WIB

Huawei Mate 80 Pro Resmi ke Pasar Global: Andalkan Sensor Premium dan Cincin Kamera Ikonis

Huawei Mate 80 Pro Resmi ke Pasar Global: Andalkan Sensor Premium dan Cincin Kamera Ikonis

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 09:34 WIB

Arab Saudi Kini Kuasai 10 Persen Saham Capcom, Langkah Agresif Putra Mahkota di Dunia Game

Arab Saudi Kini Kuasai 10 Persen Saham Capcom, Langkah Agresif Putra Mahkota di Dunia Game

Tekno | Jum'at, 20 Maret 2026 | 09:20 WIB