Ilmuwan Temukan Sampah Plastik Membeku di Kutub Utara?

Dythia Novianty
Ilmuwan Temukan Sampah Plastik Membeku di Kutub Utara?
Kutub Utara. [Shutterstock]

Para ilmuwan menemukan mikroplastik membeku di Kutub Utara.

Suara.com - Para ilmuwan telah menemukan mikroplastik dalam jumlah besar beku di es laut Arktik, Kutub Utara. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga terlihat kondisi sekarang menjadi sangat mengkhawatirkan.

Analisis inti es dari seluruh wilayah menemukan tingkat polusi hingga tiga kali lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Setiap liter es laut mengandung sekitar 12.000 partikel plastik, yang kini diketahui oleh para ilmuwan sedang dicerna oleh para hewan.

Berdasarkan analisis mereka, para peneliti mampu melacak jejak fragmen-fragmen kecil itu dari tempat asal mereka.

“Kami melihat jejak manusia yang jelas di Kutub Utara,” kata penulis pertama penelitian, Dr Ilka Peeken.

"Ini menunjukkan bahwa mikroplastik sekarang ada di mana-mana di permukaan air laut dunia. Tidak ada yang terlewatkan," kata Dr Jeremy Wilkinson, fisikawan es laut di British Antarctic Survey yang tidak terlibat dengan penelitian ini.

Dr Peeken dan timnya di Institut Alfred Wegener untuk Penelitian Kutub dan Kelautan, mengumpulkan sampel inti es selama tiga ekspedisi pada penelitian pemecah es Polarstern.

Pelayaran mereka meliputi lima wilayah sepanjang Drift Transpolar dan Selat Fram, yang menyalurkan es laut dari Arctic Tengah ke Atlantik Utara.

Tidak hanya es laut kutub yang bertindak sebagai penyimpan plastik laut yang berpotensi dilepaskan ketika suhu global menjadi lebih hangat karena perubahan iklim, pergerakan es laut bisa menyimpan mikroplastik di area yang sebelumnya bebas plastik.

Para peneliti menganalisis, sampel mereka menggunakan perangkat yang dikenal sebagai spektrometer inframerah Fourier-transform.

Hal ini memungkinkan mereka untuk memeriksa lapisan inti es secara berlapis dan dengan sangat rinci, mengerjakan asal-usul bahkan potongan terkecil dari plastik.

"Yang menarik juga adalah Anda memiliki sumber yang sangat terlokalisasi, mengirimkan partikel cat dan puntung rokok dan hal-hal seperti itu," kata Dr Peeken.

“Kami juga melihat polietilena, polimer sangat ringan yang ditemukan dalam jumlah sangat tinggi terutama di Arktik Tengah. Kami berpikir bahwa ada arus masuk dari Pasifik sehingga bisa menunjukkan bahwa itu berasal dari daerah itu. Kami melihat dampak besar polusi plastik yang berasal dari daerah perkotaan, banyak yang datang dari Atlantik dan dari Pasifik," ujarnya lagi.

Dalam makalah mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, para ilmuwan berspekulasi bahwa polietilen ini dapat berasal dari Great Pacific Garbage Patch.

Sebuah penelitian yang dirilis awal tahun ini, mengungkapkan 80.000 ton plastik mengambang di wilayah Samudra Pasifik dan perusahaan teknologi nirlaba The Ocean Cleanup baru-baru ini mengungkapkan, upaya pertamanya untuk mengatasinya. [Independent]

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS