Ilmuwan Cina Rekayasa Gen Janin, Ilmuwan Dunia Geram

Liberty Jemadu

Selasa, 27 November 2018 | 07:45 WIB
Ilmuwan Cina Rekayasa Gen Janin, Ilmuwan Dunia Geram
He Jianku, ilmuwan asal Cina yang mengklaim telah berhasil menyunting atau merekayasa gen sepasang bayi kembar di Cina. [YouTube/He Lab]

Suara.com - Ilmuwan di dunia gempar sekaligus geram setelah mendengar seorang pakar genetika Cina mengklaim berhasil merekayasa gen sepasang bayi kembar yang lahir pada November ini.

He Jianku, nama ilmuwan itu, mengaku telah menanamkan sebuah embrio yang gennya telah disunting ke dalam rahim seorang ibu di Cina. Ibu itu belakangan melahirkan sepasang puteri kembar bernama Lulu dan Nana.

Dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press dan dalam video yang diunggahnya di YouTube, He mengaku menonaktifkan sebuah gen bernama CCR5. Gen ini lazimnya memproduksi sebuah protein yang berperan sebagai pintu masuk virus HIV ke dalam sel tubuh manusia.

Dengan menonaktifkan gen itu, He berharap bayi-bayi yang telah direkayasa itu akan kebal dari penyakit mematikan HIV AIDS.

Ia mengatakan bahwa kini dua bayi perempuan itu dalam kondisi sehat dan telah berada di rumah orang tua mereka. Ia mengklaim penyuntingan gen yang dia lakukan berhasil dan hanya mengubah gen yang disasar.

Meski demikian, klaim He belum bisa diperiksa kebenarannya lewat pengujian independen atau dalam jurnal peer-review. Tetapi jika benar, maka kelahiran dua bayi perempuan itu menunjukkan lompatan besar dalam penyuntingan genetika, sekaligus secara gamblang pelanggaran terhadap etika dalam dunia sains.

Sejauh ini rekayasa genetika terhadap janin hanya dilakukan di laboratorium untuk riset, sering kali untuk mengetahui manfaat penyuntingan gen untuk menghilangkan penyakit-penyakit yang memicu mutasi genetik.

Tetapi dalam beberapa kasus, metode itu memiliki efek samping yang menunjukkan bahwa rekayasa genetika belum benar-benar aman untuk digunakan.

Dalam kasus He, dari dokumen yang diunggahnya di daftar eksperimen klinik Cina, diketahui bahwa teknik yang digunakan adalah CRISPR-Cas9 - teknik yang sudah dikenal luas dalam dunia kedokteran.

Pakar penyuntingan gen, Fyodor Urnov dari Altius Intitute for Biomedical Science di Seattle, Amerika Serikat mengatakan dari hasil pengamatannya terhadap dokumen itu, tampaknya He memang telah menyunting gen dua bayi itu.

Tetapi ia menekankan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan bahwa bocah kembar itu telah direkayasa adalah dengan meneliti DNA mereka.

Urnov sendiri juga pernah menyunting gen CCR5 menggunakan teknik CRISPR-Cas9, tetapi ia melakukannya pada sel-sel orang dewasa bukan pada janin. Ia menekankan bahwa ada banyak cara memanfaatkan ilmu genetika untuk melindungi manusia dari HIV yang tak mewajibkan dilakukannya penyuntingan gen janin.

"Saat ini belum ada kebutuhan medis yang mewajibkan adanya penyuntingan janin," kata dia.

Urnov bukan satu-satunya ilmuwan yang tak sepakat dengan karya He. Joyce Harper dari University College London, Inggris juga menilai bahwa diperlukan payung hukum serta diskusi publik sebelum penyuntingan gen pada janin dipraktikan luas.

"Laporan hari ini soal penyuntingan gen demi kekebalan terhadap virus HIV masih prematur, berbahaya, dan tak bertanggung jawab," tegas Harper yang merupakan pakar kesehatan reproduksi perempuan.

"Ini sesuatu yang amoral... sebuah eksperimen pada manusia yang secara moral atau secara etis tak bisa dipertanggungjawabkan," tegas Kiran Masunuru, pakar rekayasa genetika dari University of Pennsylvania dan editor pada sebuah jurnal genetika terkemuka.

Sementara pakar bioetika pada Universitas Hokkaido, Jepang, Tetsuya Ishii mengatakan bahwa penyuntingan gen pada janin untuk mengurangi risiko infeksi HIV dibenarkan. Ia mengatakan ibu yang HIV positif masih bisa menjalani operasi sesar agar bayinya tak terjangkit virus HIV.

Tetapi ada juga ilmuwan yang sepakat dengan He. George Church, salah satu pakar genetika terkemuka dunia dari Universitas Harvard, AS, justru mengatakan bahwa penyuntingan gen untuk melawan HIV patut didukung.

"Menurut saya hal ini bisa dibenarkan," kata Church.

Kementerian Kesehatan Cina sendiri pada 2003 membuat sebuah panduan yang di dalamnya melarang penyuntingan gen bayi. Tetapi belum ada hukum yang mengatur soal hal itu.

"Saya paham karya saya akan kontroversial. Tetapi saya yakin bahwa banyak keluarga yang membutuhkan teknologi ini dan saya siap menerima kritik demi mereka," tegas He. (AP/Nature)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z

Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 18:55 WIB

Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan

Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 17:20 WIB

Sisi Gelap Adulthood: Pergulatan Mental Gen Z Hadapi Ketidakpastian Hidup

Sisi Gelap Adulthood: Pergulatan Mental Gen Z Hadapi Ketidakpastian Hidup

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Maknai Hari Sumpah Pemuda, Jasa Marga Dorong Regenerasi Kepemimpinan dan Inovasi Digital

Maknai Hari Sumpah Pemuda, Jasa Marga Dorong Regenerasi Kepemimpinan dan Inovasi Digital

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?

Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?

Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 18:35 WIB

Kemampuan Multibahasa GenZ: Gaul & Fasih Bahasa Asing Tanpa Lupa Bahasa Ibu

Kemampuan Multibahasa GenZ: Gaul & Fasih Bahasa Asing Tanpa Lupa Bahasa Ibu

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Dilema Guru Bahasa Inggris: Ketika Bahasa Ibu Tersisih di Era Gen Z

Dilema Guru Bahasa Inggris: Ketika Bahasa Ibu Tersisih di Era Gen Z

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:15 WIB

Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan

Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×