Nasib Gen Z di Jalur Gaza, Sarjana Pengangguran Bergantung Hidup dari Bantuan Kemanusiaan

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:03 WIB
Nasib Gen Z di Jalur Gaza, Sarjana Pengangguran Bergantung Hidup dari Bantuan Kemanusiaan
Warga Palestina membawa beberapa barang yang diselamatkan ketika mereka menuju kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Jumat (30/5/2024). [Omar AL-QATTAA / AFP]
baca 10 detik

Pengangguran di Gaza menembus 80 persen akibat perang dan kejatuhan ekonomi secara masif.

Banyak lulusan sarjana terpaksa mengambil pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Ruang kerja komunal menjadi tumpuan sarjana untuk mengakses internet dan pekerjaan jarak jauh.

Suara.com - Perang dan blokade panjang oleh Israel menghancurkan pasar kerja di Gaza hingga mengancam masa depan ribuan lulusan perguruan tinggi di Palestina. Krisis ini memaksa para sarjana beralih profesi ke sektor informal demi menyambung hidup keluarga.

Ketimbang menunggu lowongan yang relevan, para pemuda berpendidikan kini memburu pekerjaan apa pun yang tersedia. Fenomena ini menciptakan pergeseran struktur tenaga kerja baru di tengah kehancuran fasilitas publik dan kampus.

Inisiatif lokal seperti penyediaan ruang kerja bersama kini menjadi tumpuan terakhir untuk mengakses internet dan listrik. Ruang komunal tersebut membantu sarjana Gaza menembus isolasi guna meraih peluang kerja jarak jauh.

Warga Palestina memeriksa kehancuran setelah serangan tentara Israel di sekitar tenda-tenda pengungsi di dalam tembok Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, di Jalur Gaza, Palestina, Senin (14/10/2024). [Eyad BABA / AFP]
Warga Palestina memeriksa kehancuran setelah serangan tentara Israel di sekitar tenda-tenda pengungsi di dalam tembok Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, di Jalur Gaza, Palestina, Senin (14/10/2024). [Eyad BABA / AFP]

Rawan al-Jabali menatap layar laptopnya dengan cemas di sebuah kamp pengungsian kawasan Nuseirat, Gaza tengah. Lulusan sastra dan translasi bahasa Inggris dari Islamic University of Gaza ini terus menyegarkan halaman peramban demi berburu lowongan.

Dua tahun berlalu sejak ia meraih gelar sarjana, tetapi pencarian kerjanya selalu menemui jalan buntu. Keadaan kian memburuk akibat agresi militer yang memaksa keluarganya berpindah dari Gaza utara.

“Saya belajar penerjemahan karena percaya akan memiliki peluang di bidang ini, tetapi setelah perang sebagian besar lembaga tempat saya bisa bekerja telah lenyap,” kata al-Jabali kepada Al Jazeera.

Data Kantor Media Pemerintah mencatat angka pengangguran di Gaza kini telah menembus 80 persen. Kondisi tersebut mendorong tingkat kemiskinan di wilayah kantong terisolasi itu melonjak melebihi 93 persen.

Gelar akademis tidak lagi menjamin pekerjaan yang layak bagi para pemuda di Gaza. Mohammed al-Khudari, seorang lulusan teknik dari kampus yang sama, merasakan dampak kehancuran pasar kerja tersebut.

Hari-harinya dihabiskan dengan menelusuri iklan lowongan melalui ponsel di tengah krisis daya listrik. Pemboman, penutupan perbatasan, dan ancaman kelaparan menghentikan seluruh roda perekonomian daerah.

baca juga

“Saya menghabiskan waktu berjam-jam mencari peluang kerja yang ada, dan saya menghadapi kesulitan mengisi daya ponsel atau bahkan terhubung ke internet, tetapi saya terus mencoba,” ujar al-Khudari.

Keputusasaan membuat al-Khudari menurunkan standar kariernya dan mengabaikan latar belakang keinsinyuran. Ia melamar ke berbagai bidang kerja kasar yang sama sekali tidak berhubungan dengan disiplin ilmunya.

“Saya mulai melamar pekerjaan di berbagai sektor seperti kafe, restoran, dan pekerjaan pembersihan, karena tujuan utamanya adalah mengamankan penghasilan yang memungkinkan saya menopang diri sendiri dan keluarga serta membangun awal yang baru,” ungkap al-Khudari.

“Banyak lulusan melamar pekerjaan apa saja yang tersedia karena keadaan memaksa mereka mencari penghasilan ketimbang menunggu pekerjaan yang berkaitan dengan spesialisasi mereka,” tambahnya.

Bencana ketenagakerjaan ini sejalan dengan kemerosotan ekonomi secara menyeluruh di Gaza. Produk Domestik Bruto (PDB) Gaza menyusut lebih dari 82 persen sejak perang pecah pada Oktober 2023.

Blokade militer membuat sekitar 80 persen populasi Gaza menggantungkan hidup sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan internasional. Sumber pendapatan warga merosot tajam di tengah ancaman kelaparan yang terus meluas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mahasiswa Universitas Islam Gaza di Tengah Gempuran Israel: Kami Kuliah di Rumah Sakit

Mahasiswa Universitas Islam Gaza di Tengah Gempuran Israel: Kami Kuliah di Rumah Sakit

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 12:48 WIB

Derita Bayi di Gaza Sudah Terancam Hidup Prematur Sebelum Lahir di Dunia, Bagaimana Bisa?

Derita Bayi di Gaza Sudah Terancam Hidup Prematur Sebelum Lahir di Dunia, Bagaimana Bisa?

News | Senin, 27 Juli 2026 | 17:22 WIB

Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z

Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z

Your Say | Senin, 27 Juli 2026 | 18:00 WIB

Terkini

Ambisi Daud Yordan Tantang Manny Pacquiao, Laga Back to Champion 2026 Jadi Penentu

Ambisi Daud Yordan Tantang Manny Pacquiao, Laga Back to Champion 2026 Jadi Penentu

Sport | Rabu, 16 September 2026 | 15:57 WIB

Rupiah Letoi Sendirian di Asia, Ringgit Paling Kuat

Rupiah Letoi Sendirian di Asia, Ringgit Paling Kuat

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 15:55 WIB

Kisa Perempuan Adat Sembuan Menjaga Hutan Sekaligus Menopang Kehidupan Keluarga

Kisa Perempuan Adat Sembuan Menjaga Hutan Sekaligus Menopang Kehidupan Keluarga

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:55 WIB

Dibintangi Dinda Hauw dan Rey Mbayang, Intan Kieflie Bawa Film Ritual Gaib Tayang di 38 Negara

Dibintangi Dinda Hauw dan Rey Mbayang, Intan Kieflie Bawa Film Ritual Gaib Tayang di 38 Negara

Entertainment | Rabu, 16 September 2026 | 15:54 WIB

Program MYP Irigasi Pemprov Sulsel Topang Swasembada Pangan

Program MYP Irigasi Pemprov Sulsel Topang Swasembada Pangan

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 15:54 WIB

Di Depan Bahlil, PDIP Tagih Progres Pembahasan RUU Migas: Apa Kabar Gerangan?

Di Depan Bahlil, PDIP Tagih Progres Pembahasan RUU Migas: Apa Kabar Gerangan?

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 15:53 WIB

4 Rekomendasi Sabun Cuci Muka Ceramide Terbaik untuk Perbaiki Skin Barrier, Harga di Bawah Rp50 Ribu

4 Rekomendasi Sabun Cuci Muka Ceramide Terbaik untuk Perbaiki Skin Barrier, Harga di Bawah Rp50 Ribu

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:51 WIB

RUU Pemilu Masuk Babak Baru, DPR Segera Bentuk Panja Tahun Ini

RUU Pemilu Masuk Babak Baru, DPR Segera Bentuk Panja Tahun Ini

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:50 WIB

PB PORDI dan HGI Gelar Turnamen di Samarinda, Ribuan Atlet Adu Strategi

PB PORDI dan HGI Gelar Turnamen di Samarinda, Ribuan Atlet Adu Strategi

Sport | Rabu, 16 September 2026 | 15:50 WIB

Pesan Terakhir Hasbiah Sebelum Virgo Transport 8 Tenggelam: 'Jaga Cucu-Cucuta'

Pesan Terakhir Hasbiah Sebelum Virgo Transport 8 Tenggelam: 'Jaga Cucu-Cucuta'

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 15:47 WIB

×