Ini Penjelasan Ilmiah Longsor Bawah Laut, Penyebab Tsunami Banten

Dinar Surya Oktarini
Ini Penjelasan Ilmiah Longsor Bawah Laut, Penyebab Tsunami Banten
Pulau Anak Krakatau. (Suara.com/Risna Halidi)

Diduga, tsunami ini terjadi karena longsor bawah laut.

Suara.com - Indonesia baru saja dihantam bencana tsunami di Selat Sunda dan daerah pantai di kawasan Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan pada Sabtu malam (22/12/2018). Diduga, tsunami ini terjadi karena longsor bawah laut.

Hal ini disampaikan oleh Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam akun Twitter pribadinya.

Menurutnya, penyebab terjadinya tsunami ini kemungkinan adalah karena longsor bawah laut yang terjadi karena pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau. Selain karena longsor bawah laut, tsunami ini juga diduga terjadi karena gelombang tinggi.

Jika Sutupo Purwo Nugroho menyebut tsunami di Selat Sunda terjadi akibat longsor bawah tanah, lalu bagaimana sebenarnya proses terjadinya longsor satu ini?

Menurut para ahli, tsunami memang bisa terjadi karena adanya longsoran, Hal ini disebut sebagai tsunamigenic submarine landslide.

Tsunami Selat Sunda. (twitter/Sutopo_PN)
Tsunami Selat Sunda. (twitter/Sutopo_PN)

Melihat dari bagaimana longsor terjadi, dapat disimpulkan bahwa longsor laut dan longsor yang terjadi di darat adalah hal yang sama, yaitu saat adanya penumpukan pasir yang memiliki sudut kritis dan semakin hari akan semakin menipis dan menyebabkan runtuhan. Dalam ilmu geomorfologi, hal ini dikenal dengan nama ''angle of repose''.

Pada tsunami Palu yang baru saja terjadi pada Agustus 2018 lalu, para peneliti juga menemukan bahwa hal ini dipicu oleh duet antara longsoran bawah tanah dan gempa bermagnitudo 7,4 SR.

Sebelum itu, pada tsunami Aceh Desember 2004, Angkatan Laut Inggris yang melakukan survey pemetaan kedalaman dasar laut berhasil menemukan teori barunya.

Dalam sebuah gambar yang dirilis, terlihat adanya beberapa bukit yang terbangun. Sedangkan bagian lainnya menunjukan adanya longsoran bukit besar yang bergeser turun ke bawah.

Hal ini lalu semakin menguatkan pendapat mengenai terjadinya duet antara longsor bawah laut dan dislokasi patahan yang kemudian terjadi lah tsunami Aceh.

Gempa dan tsunami Palu dan Donggala. (Suara.com/Muhammad Yasir)
Gempa dan tsunami Palu dan Donggala. (Suara.com/Muhammad Yasir)

Secara kedudukan, sudut kritis dari dasar laut yang berada di ujung adalah bagian paling rawan. Apabila lereng sudut kritis ini berada di jalur gempa, sudah tentu akan sering terjadi longsor ketika ada sebuah getaran kecil yang mengganggu.

Dari kedudukan pulau-pulau Indonesia, Selat Makassar adalah salah satu bagian yang cukup sering terjadi tsunami akibat longsor bawah laut.

Secara geografis, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan daripada daratan. Perpaduan antara gunung api dan negara kepulauan, memang membuat Indonesia rentan terhadap ancaman gempa dan tsunami.

Selain ancaman gunung api, rupanya kedudukan dasar laut perairan Indonesia juga cukup berpengaruh untuk berbagai bencana gempa dan tsunami yang terjadi. Salah satunya adalah longsor bawah tanah yang bisa saja mengakibatkan tsunami dahsyat. 

SUMBER: Hitekno.com

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS