Kesal Dilarang Main Game, Lelaki Diduga Ingin Meracuni Keluarganya

Dythia Novianty
Kesal Dilarang Main Game, Lelaki Diduga Ingin Meracuni Keluarganya
Ilustrasi seseorang kecanduan game. [Shutterstock]

Seorang pecandu game diduga mencoba meracuni orang tuanya sendiri setelah mereka memaksanya untuk berhenti bermain.

Suara.com - Seseorang yang dalam kondisi kecanduan, kerap berperilaku di luar kontrol dan akal sehat. Seorang pecandu game diduga mencoba meracuni orang tuanya sendiri setelah mereka memaksanya untuk berhenti bermain, dengan mencabut router internet.

Dilansir dari Mirror, Sak Duanjan (29), pulang dalam keadaan mabuk dan mulai bermain game di smartphone-nya dengan volume tinggi. Saat itu, orang tuanya mencoba untuk tidur.

Ayah tirinya, Chakri Khamruang (52), mengatakan dia bangun dan mencabut kontak wi-fi, berusaha menghentikan Sak dari mengganggu orang lain di rumah.

Tapi Sak diduga malah mengamuk, mengeluarkan kata-kata kasar kepada ayah tirinya sebelum menghancurkan dinding rumah.

Chakri mengatakan, dia tidak punya pilihan selain memukulnya untuk menenangkannya dari bertindak agresif. Pertarungan sepertinya telah berakhir ketika Sak pergi tidur.

Tetapi keesokan paginya, ibunya Suban Duanjan (51), mengklaim dia menemukan pestisida yang tidak larut mengambang di kebun rumah keluarga sementara dia akan mengambil air untuk memasak nasi. Suban pun terguncang, dia terkejut bahwa putranya sendiri diduga mencoba membunuhnya dan suaminya.

"Saya melihat anak saya turun ke bawah dan meletakkan sesuatu di botol sekitar jam 2 pagi. Saya bertanya kepadanya apa yang dia lakukan tetapi dia tidak menjawab dan kembali ke kamarnya. Jadi, saya membiarkannya pergi dan kembali tidur. Saya masih tidak percaya dia bisa melakukan ini. Saya tahu dia mudah marah. Kami mencoba yang terbaik untuk mengatasi amarahnya tetapi kali ini sudah keterlaluan," bebernya.

Ilustrasi seorang bocah yang kecanduan game online (Shutterstock).
Ilustrasi seorang bocah yang kecanduan game online (Shutterstock).

Pihak keluarga memutuskan menghubungi pihak berwenang setempat untuk meminta bantuan.

Sak diduga mengaku kepada mereka bahwa dia telah memasukkan racun ke dalam persediaan air keluarga karena dia masih kesal setelah dicegah memainkan game dari smartphone-nya.

"Kami ingin petugas pemerintah membawanya untuk dirawat di rumah sakit karena kami tidak ingin hidup dalam ketakutan ketika dia akan menyerang kami lagi. Dia sangat sering bermain di telepon, saya pikir itulah yang membuatnya stres. Sulit untuk menghentikannya karena dia sudah dewasa sekarang. Jadi, kami sudah meminta bantuan," tukas Suban.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS