Performa
Vivo V15 mengusung chipset MediaTek Helio P70 berkecepatan 2,1 GHz dengan fabrikasi 12 nanometer. Perlu diingat, semakin kecil ukuran transistor, maka performa yang ditawarkan jauh lebih cepat.
Di atas kertas, chip yang terpasang pada ponsel ini termasuk kelas menengah. Di merek tetangga, banderol Rp 4 juta bisa dipakai untuk membeli ponsel dengan prosesor kelas wahid, satu tingkat di atas Helio P70.
Urusan grafis, Helio P70 bersanding dengan Mali-G72 yang berjalan lebih kencang dalam mengolah grafis jika dibandingkan dengan chip sekelasnya, Snapdragon 660. Dan 30 persen lebih cepat dari chip pendahulunya.
Chip yang terpasang juga menunjang sensor kamera depan hingga 32 MP untuk single-camera. Sehingga, tak heran jika chipset ini dapat memberikan pengalaman swafoto terbaik.
Untuk bermain game, Helio P70 memberikan pengalaman gameplay yang responsif, karena mendapatkan peningkatan game seluler yang mencakup optimalisasi multi-threading unik, serta fokus pada peningkatan latensi di area pengguna yang kritis.
Kebetulan, game yang saya mainkan adalah Mobile Legends. Meski gameplay berjalan mulus, namun ponsel cepat panas sehingga konsumsi baterai saat dipakai bermain game menjadi boros.
![Tes Antutu Benchmark Vivo V15. [Suara.com/Tivan Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/07/01/75426-vivo-v15.jpg)
Beranjak menuju ruang penyimpanan, Vivo V15 dilengkapi RAM 6 GB dan ROM 64 GB. Untuk urusan ini, ponsel anyar tersebut bisa memfasilitasi keseharian penggunanya. Andaikan memori masih dirasa kurang, pengguna masih bisa mendongkraknya dengan MicroSD hingga 256 GB.
Untuk menopang mobilitas penggunanya, Vivo V15 dijejali baterai 4.000 mAh. Di atas kertas, kapasitas sebesar itu seharusnya bisa menemani keseharian saya. Tapi pada kenyataannya tidak.
Pasalnya, ponsel ini tidak sanggup bertahan hingga 10 jam dengan pemakaian meliputi telepon, browsing, chattint, bermain game, memotret, dan mengambil video. Meski begitu, pengisian baterainya terbilang cepat karena bisa mengisi daya dari 5 persen hingga penuh dalam waktu kurang dari 2 jam.
Kamera
Vivo V15 memiliku tiga kamera belakang dengan konfigurasi 24 MP f/ 1.8, sensor ultra-wide 8 MP aperture f/ 2.2, dan sensor kedalaman 5 MP aperture f/ 2.4.
Soal kamera belakang, nyaris tidak memiliki masalah saat dipakai memotret dalam kondisi pencahayaan yang cukup. Detil obyek tajam, komposisi warna tidak berlebihan, dan efek bokeh yang lumayan rapi.
Namun, semua itu langsung menjadi buyar ketika pemotretan dilakukan pada malam hari atau di dalam ruangan dengan kondisi minim cahaya.
![Hasil pengambilan gambar malam hari dengan Vivo V15. [Suara.com/Tivan Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/07/01/98950-hasil-pengambilan-gambar-vivo-v15.jpg)
Sedangkan fitur paling menjual ada pada kamera depan dengan mekanisme Pop-up bersensor 32 MP beraperture f/ 2.0. Tak hanya bagus saat menghasilkan foto, kamera selfie ponsel ini juga kuat.
Beberapa kali, saya sempat membenturkan kamera pop-up tersebut dan hasilnya, baik-baik saja. Proses menyembulnya kamera berlangsung mulus dan kualitas kamera depan pun tetap ciamik.
![Hasil pengambilan gambar auto mode dengan Vivo V15. [Suara.com/Tivan Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/07/01/75511-hasil-pengambilan-gambar-vivo-v15.jpg)
Kesimpulan
Tak bisa dipungkiri, kelebihan Vivo V15 bertumpu pada kamera depan pop-up. Bukan sekadar pionir dan gimmick semata, kamera selfie ponsel ini menawarkan hasil swafoto yang lebih realistis.
Namun untuk fitur lainnya, Vivo terlihat setengah hati dalam menyematkan komponen-komponen yang menggerakkan ponsel, terlebih pada bagian prosesor. Dibanderol Rp 4 jutaan, konsumen sebenarnya berhak mendapatkan chip lebih dari Helio P70.
![Kamera Vivo V15. [Suara.com/Tivan Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/07/01/71803-kamera-vivo-v15.jpg)
Pada akhirnya, Vivo V15 memang menggantungkan daya tariknya pada inovasi kamera pop-up yang diusungnya.