Banyak Sapi Mati, Peternakan di AS Dihantui Makhluk Penghisap Darah

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta
Banyak Sapi Mati, Peternakan di AS Dihantui Makhluk Penghisap Darah
Ilustrasi sapi Belgian Blue. (Dok: Shutterstock)

Makhluk penghisap darah ini juga bepotensi membawa virus mematikan.

Suara.com - Makhluk penghisap darah ternyata bukanlah hanya sekedar cerita atau mitos, tapi benar adanya dan telah dikonfirmasi oleh ilmuwan.Namun santai saja, makhluk itu bukan vampir atau drakula, namun lebih kepada segerombolan kutu jahat yang membawa infeksi mematikan.

Segerombolan kutu kloning yang ganas diketahui telah membunuh seekor sapi di North Carolina, Amerika Serikat.

Disebut kutu kloning, karena mereka bisa memperbanyak diri mereka dengan bertelur hingga 2.000 klon kutu partenogenetik (tanpa kawin)

Sapi yang menjadi korban kutu kloning tersebut merupakan sapi kelima yang telah dicatat secara resmi oleh lembaga terkait.

Peneliti menemukan bahwa kutu kloning membunuh sapi dengan metode "exsanguination" atau pengeringan dan penghisapan darah.

Sapi ditemukan mati dalam kondisi kekurangan darah dan terinfeksi penyakit.

Haemaphysalis longicornis betina. (Wikipedia/ James Gathany)
Haemaphysalis longicornis betina. (Wikipedia/ James Gathany)

Penyebab resmi kematian adalah anemia akut, yang biasanya dikaitkan dengan pendarahan hebat.

Pada bulan Juni 2019, peneliti penyakit menular di New York melaporkan kasus pertama spesies kutu yang terinfeksi menggigit manusia di AS.

Dr. Bobbi S. Pritt, seorang peneliti dan juga direktur Clinical Parasitology Laboratory di Mayo Clinic sangat mengkhawatirkan laporan itu terkait dengan beberapa alasan.

Ia telah menuliskan komentar dan pendapatnya dalam jurnal yang diterbitkan di Clinical Infectious Diseases.

Kutu kloning yang dipermasalahkan merupakan jenis spesies kutu bercangkang panjang Asia atau memiliki nama ilmiah Haemaphysalis longicornis.

Ilustrasi hewan yang terinfeksi kutu cankang panjang Asia. (Penn State University)
Ilustrasi hewan yang terinfeksi kutu cankang panjang Asia. (Penn State University)

Makhluk penghisap darah yang sama juga dikaitkan dengan kematian empat sapi di Surry County sejak tahun 2018.

Dikutip dari Arstechnica, Dr. Pritt khawatir terhadap hewan itu karena diketahui kutu penghisap darah bisa menyebarkan virus.

Kutu diketahui bisa menyebarkan virus SFTVS (Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome Virus), virus berbahaya yang mematikan.

SFTSV terkait dengan virus Heartland yang ditemukan di AS dan telah dilaporkan tingkat kematiannya hingga 30 persen.

Kutu pengisap darah atau memiliki nama ilmiah Haemaphysalis longicornis. (Wikimedia Commons)
Kutu pengisap darah atau memiliki nama ilmiah Haemaphysalis longicornis. (Wikimedia Commons)

Virus tersebut bahkan pernah menyerang China dan memakan korban jiwa 36 orang.

H. longicorni juga diketahui menularkan Rickettsia japonica, penyebab demam bercak Jepang.

"Sejauh ini, penyelidik kesehatan belum menemukan kutu yang menyimpan kuman dan virus tersebut. Tetapi ada risiko bahwa pada suatu titik mereka dapat membawanya," komentar Dr Pritt.

Mungkin manusia di AS masih belum terlalu khawatir dengan makhluk penghisap darah ini, namun para peternak tetap waspada karena kutu kloning tersebut bisa menyerang hewan berharga mereka kapan saja.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS