Robot Curiosity Temukan Oasis Kuno di Mars, Tanda Kehidupan?

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Robot Curiosity Temukan Oasis Kuno di Mars, Tanda Kehidupan?
Mobil robotik sekaligus laboratorium berjalan milik badan antariksa Amerika Serikat di Mars, Curiosity. [Shutterstock]

Peneliti dari NASA mengirimkan robot Curiosity untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan tanda-tanda kehidupan di Mars.

Suara.com - Selama ini, penelitian di Mars selalu didasari rasa ingin tahu, apakah planet tersebut memiliki kehidupan, sehingga bisa ditinggali manusia di masa depan?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, peneliti dari NASA mengirimkan robot Curiosity untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan tanda-tanda kehidupan di Mars.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan di Planet Merah tersebut, NASA akhirnya menemukan titik terang tentang jejak kehidupan Mars di masa lalu, yakni berupa oasis kuno.

Berbentuk cekungan, oasis kuno ini dinamakan Gale Crater. Oasis kuno ini memiliki luas sekitar 154 kilometer dan cekungan dengan tingkat kedalaman hingga 5 kilometer.

Logo NASA. [Shutterstock]
Logo NASA. [Shutterstock]

Mengenai asal usulnya, Gale Crater telah terbentuk dari hantaman dahsyat yang terjadi pada miliaran tahun yang lalu. Lokasinya pun dikelilingi pegunungan tinggi yang diberi nama Pegunungan Sharp.

Selain itu, peneliti (melalui Curiosity) menemukan adanya kumpulan batu sedimen yang memiliki tinggi sekitar 150 meter yang NASA namakan Pulau Sutton.

Pada oasis itu sendiri, ditemukan beberapa celah pada bebatuan yang mengelilinginya sehingga menciptakan sebuah danau yang peneliti namakan sebagai "Old Soaker".

Sedangkan di bagian ada danau itulah mereka menemukan kandungan mineral garam yang membuat para peneliti berasumsi bahwa di sekitar Gale Crater, sempat terdapat air asin.

Ilustrasi permukaan planet Mars (Shutterstock).
Ilustrasi permukaan planet Mars (Shutterstock).

Sementara itu, sebagaimana dilansir laman Metro.co.uk bahwa temuan ini sudah dimuat dalam jurnal Nature Goescience. Dalam jurnal tersebut, peneliti menemukan air yang ada di Pulau Sutton telah mengering dan meninggalkan garam asli. Namun, garam tersebut bukanlah garam meja, melainkan garam mineral.

Garam tersebut tercampur dengan sedimen yang diperkirakan terjadi melalui proses kristalisasi di lingkungan yang basah, sehingga memungkinkan air asin yang berada di kolam-kolam kecil di zaman dahulu menguap ke permukaan, membentuk garam mineral.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS