Sebelum Perubahan Iklim Drastis, Dunia Akan Diabadikan di Peta 3D

RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Sebelum Perubahan Iklim Drastis, Dunia Akan Diabadikan di Peta 3D
Peta dunia 3D gaya origami. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].

Inilah keinginan ilmuwan untuk mengabadikan dunia pakai peta 3D, sebelum terjadi iklim drastis yang mengubah Bumi.

Suara.com - Bumi mengalami perubahan iklim yang cukup drastis, di mana lebih banyak hutan dan lahan yang terbakar dan gletser mencair. Oleh karena itu, dua peneliti mengusulkan untuk "melestarikan" Bumi menggunakan laser untuk membuat peta 3D resolusi tinggi.

Pembuatan peta dunia dalam bentuk 3D itu diberi nama proyek The Earth Archive yang dipelopori oleh arkeolog Chris Fisher dan ahli geografi Steve Leisz dari Colorado State University.

"Krisis iklim akan menghancurkan warisan budaya dan ekologi kita dalam beberapa dekade. Bagaimana kita bisa mendokumentasikan semuanya sebelum terlambat?" kata Chris Fisher, seperti yang dikutip dari Space.com.

Chris Fisher mengatakan mereka akan menggunakan metode pemindaian jarak jauh dengan bantuan pesawat terbang yang mengeluarkan jaring sinar laser. Dari metode ini, para peneliti dapat membuat peta 3D resolusi tinggi dari area tertentu kemudian mengeditnya secara digital.

Sebelumnya, metode ini juga pernah dilakukan dalam survei arkeologis dan membantu para peneliti mengungkap kota-kota yang hilang di bagian hutan Afrika dan Amerika Selatan.

Proyek The Earth Archive akan berfokus pada pemindaian seluruh wilayah Bumi yang mencakup sekitar 29 persen permukaan planet, dimulai dari daerah yang paling terancam punah, seperti rainforest atau hutan hujan Amazon dan wilayah pesisir yang berisiko tenggelam akibat naiknya permukaan laut.

"Projek itu mungkin akan memakan waktu puluhan tahun. Tapi peta 3D Bumi akan menjadi hadiah utama bagi generasi mendatang," tambah Chris Fisher.

Proyek The Earth Archive juga membutuhkan dana yang sangat besar. Menurut Chris Fisher, hanya untuk memindai sebagian besar wilayah Amazon dalam tiga tahun ke depan, mereka membutuhkan data sekitar 10 juta dolar Amerika Serikat. Meski begitu, para peneliti juga harus berjuang untuk mendapatkan izin dari pemerintah di masing-masing daerah, mengingat mereka akan menerbangkan pesawat asing tak dikenal di atas wilayah negara untuk memindai.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS