Nilai Pelamar, Perusahaan Ini Gunakan Pemindai Wajah AI

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Jum'at, 01 November 2019 | 12:00 WIB
Nilai Pelamar, Perusahaan Ini Gunakan Pemindai Wajah AI
Ilustrasi pencari kerja. (Shutterstock)

Suara.com - Kemampuan teknologi AI atau kecerdasan buatan semakin hari semakin berkembang pesat. Sebuah perusahaan teknologi rekrutmen, HireVue, bahkan mengembangkan sistem AI yang mampu memindai wajah pelamar pekerjaan.

Sistem AI tersebut menggunakan komputer atau kamera smartphone untuk menganalisis gerakan wajah, pilihan kata, dan suara pelamar kerja untuk dibandingkan dengan pelamar lainnya berdasarkan skala "kemampuan kerja".

Teknologi ini rupanya telah banyak digunakan di perusahaan sehingga beberapa sekolah melatih siswanya cara melihat dan berbicara untuk mendapatkan hasil terbaik.

Lebih dari 100 pengusaha sekarang menggunakan sistem AI tersebut, termasuk perusahaan besar seperti Hilton, Unilever, dan Goldman Sachs.

Ilustrasi teknologi pemindai wajah, pengenalan wajah, Face ID. [Shutterstock]
Ilustrasi teknologi pemindai wajah, pengenalan wajah, Face ID. [Shutterstock]

Dilansir laman Make Tech Easier, meski begitu sistem tersebut mendapat beberapa kritik dari para kritikus. Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah teknologi dapat menentukan seperti apa seorang karyawan yang sempurna.

"Ini adalah perkembangan teknologi yang sangat menganggu. Kenyataan bahwa manusia memiliki teknologi eksklusif yang mengklaim dapat membedakan antara pekerja produktif dan non-produktif berdasarkan gerakan wajah, nada suara, dan tingkah laku mereka," ucap Meredith Whittaker, Pendiri AI Now Institute.

Tapi, Loren Larsen selaku Chief Technology Officer HireVue membantah hal itu dan mengatakan ada aspek psikologi yang tidak dapat dilihat dengan mata manusia saat menilai pelamar pekerjaan.

"Pelamar ditolak sepanjang waktu karena dinilai berdasarkan penampilan, sepatu yang mereka pakai, dan baju. Algoritma menghilangkan sebagian besar dari aspek itu dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," jelas Larsen.

Nathan Mondragon selaku Kepala Psikolog Industri-Organisasi HireVue mengatakan penilaian akan memakan waktu selama 30 menit dengan enam pertanyaan yang akan diajukan.

baca juga

Sistem akan menghimpun hingga 500.000 poin data untuk menghitung skor. Poin tersebut mencakup kegembiraan, kemarahan, pilihan kata, dan nada biacara pelamar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Google Ajarkan AI Kenali Bau

Google Ajarkan AI Kenali Bau

Tekno | Rabu, 30 Oktober 2019 | 14:03 WIB

Masuk Toilet Umum di China Bisa Dapat Peringatan, Kok Bisa?

Masuk Toilet Umum di China Bisa Dapat Peringatan, Kok Bisa?

Tekno | Senin, 21 Oktober 2019 | 09:10 WIB

Bahaya! Survei Ini Membuktikan Robot Lebih Dipercaya dari Manusia

Bahaya! Survei Ini Membuktikan Robot Lebih Dipercaya dari Manusia

Tekno | Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:15 WIB

Google Hentikan Penelitian Face Unlock Pixel 4, Kenapa?

Google Hentikan Penelitian Face Unlock Pixel 4, Kenapa?

Tekno | Senin, 07 Oktober 2019 | 15:45 WIB

Entrupy, Startup Khusus untuk Otentikasi Tas Mewah

Entrupy, Startup Khusus untuk Otentikasi Tas Mewah

Lifestyle | Kamis, 12 September 2019 | 13:50 WIB

CIMON, Si Otak Terbang Berhasil Kembali dari Misinya

CIMON, Si Otak Terbang Berhasil Kembali dari Misinya

Tekno | Senin, 02 September 2019 | 17:30 WIB

Terkini

Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi

Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:50 WIB

5 Cara Mengatasi Kaki Lecet dan Pegal Setelah Jalan Kaki 20 Ribu Langkah

5 Cara Mengatasi Kaki Lecet dan Pegal Setelah Jalan Kaki 20 Ribu Langkah

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:40 WIB

Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama

Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama

Sumut | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:39 WIB

PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba

PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:38 WIB

Demo Sumpah Pemuda di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-Kacir

Demo Sumpah Pemuda di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-Kacir

Jogja | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:27 WIB

Apakah BPJS PBI yang Nonaktif Bisa Diaktifkan Kembali? Ini Langkah-langkahnya

Apakah BPJS PBI yang Nonaktif Bisa Diaktifkan Kembali? Ini Langkah-langkahnya

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:25 WIB

Rayakan 25 Tahun, L-Men Perkuat Inovasi Produk dan Ekosistem Hidup Sehat

Rayakan 25 Tahun, L-Men Perkuat Inovasi Produk dan Ekosistem Hidup Sehat

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:22 WIB

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Health | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:01 WIB

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:58 WIB

×