Dieng dan Misteri Kompleks Candi Kuno: Pusat Ritual dan Pendidikan Agama?

BBC | Suara.com

Senin, 03 Agustus 2020 | 23:16 WIB
Dieng dan  Misteri Kompleks Candi Kuno:  Pusat Ritual dan Pendidikan Agama?
[BBC].

Suara.com - Penemuan beberapa situs bersejarah di dataran tinggi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, di antaranya undak-undakan peninggalan Mataram Kuno, akhir Juli lalu, menguatkan indikasi bahwa candi-candi Hindu di kawasan itu merupakan pusat ritual keagamaan.

Berbagai temuan terbaru itu juga diharapkan akan menguatkan indikasi awal bahwa peninggalan kompleks candi tertua di Jawa Tengah itu merupakan lokasi pendidikan di bidang keagamaan.

Diperkirakan keberadaan tangga batu - yang disebut warga setempat sebagai ondo budho - terkait dengan keberadaan kompleks candi Hindu di atasnya, yang diyakini sebagai peninggalan abad tujuh dan delapan di masa Mataram Kuno.

Tangga batu itu diyakini sebagai jalur warga untuk melakukan kegiatan religi di kompleks candi tersebut, kata arkeolog.

"Di Sikunang, kami menemukan Ondo Budho masih utuh, pada bagian atas memiliki 54 undakan (tangga) kemudian terputus, tetapi dan di bawah ditemukan 16 undakan," kata Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto.

"Lebarnya sekitar satu meter, dan kalau panjangnya mencapai lebih dari 20 meter," ungkap Eri kepada wartawan Lilik Darmawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Rabu (29/07).

Potongan jalur tangga kuno itu ditemukan di perbatasan Kabupaten Banjarnegara-Kabupaten Batang, tepatnya di kawasan perbukitan Sipandu, dan satu lagi di perbukitan curam di Desa Sikunang.

Jika temuan ondo budho di perbukitan Sikunang "relatif utuh", maka potongan undak-undakan yang ditemukan di kawasan Sipandu "sebagian besar temuan lepas" dan "tersisa hanya pipi tangga", ungkap Eri.

Apa fungsi undak-undakan atau tangga kuno itu?

Keberadaan undak-undakan kuno di dua lokasi terpisah tersebut diduga kuat sebagai jalur menuju kompleks candi di dataran tinggi Dieng untuk kegiataan religi, kata otoritas terkait.

"Itu akses orang-orang untuk menuju ke Dieng. Kebetulan (kompleks candi) di Dieng itu pusat keagamaan," kata petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dieng, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Banjarnegara, yang juga arkeolog, Aryadi Darwanto.

Masyarakat dari kawasan sekitar, seperti Batang, Pekalongan, terutama Wonosobo, dan Banjarnegara, "lewat jalur ondo budho" untuk melakukan kegiatan keagamaan di Dieng, ungkapnya.

"Dari catatan Belanda (awal abad 19), ada empat jalur menuju Dieng," ungkapnya. Namun penelitian di masa itu tidak menggambarkan bentuk dari ondo budho tersebut.

Temuan dua jalur tangga kuno di perbukitan curam itu menguatkan catatan peninggalan Hindia Belanda tersebut, ujarnya.

Apa temuan terbaru lainnya di Dieng, selain tangga kuno?

Selain tangga berundak, patung atau arca Ganesha - salah-satu dewa paling populer dalam Hinduisme - ditemukan di lahan pertanian seorang warga di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, akhir tahun lalu.

Penemuan arca setinggi 1,4 meter dan lebar 1,2 meter itu merupakan salah-satu dari empat temuan peninggalan arkeologi di kawasan Dieng dalam delapan bulan belakangan.

Arca tanpa kepala itu, yang terbuat dari batu andesit, ditemukan seorang petani saat menggali di lahan tanah miliknya.

Temuan lainnya adalah fondasi bangunan yang diyakini sebagai candi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, pertengahan Januari 2020 lalu.

Struktur candi itu ditemukan di kedalaman dua meter oleh seorang warga setempat saat menggali tanah untuk membuat septic tank. Lokasinya tidak jauh dari Musium Kaliasa - tempat menyimpan koleksi benda-benda cagar budaya, artefak, dan film mengenai Dieng.

"Secara analogi sudah terlihat bentuk candi," kata Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto, kepada media, pertengahan Februari silam.

Dipastikan bangunan candi itu sudah tidak utuh, namun tim balai cagar budaya menemukan material candi di sekitarnya.

Pada September 2019, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa tengah telah mengamankan batu-batuan kuno di areal Terminal Dieng Wetan, Wonosobo, yang diduga dulunya bagian dari struktur candi.

Apa arti temuan benda-benda arkeologi di kawasan Dieng?

Dari temuan-temuan itu, Eri Budiarto mengharapkan akan menambah data untuk mengungkap "budaya masa lalu di kawasan Dieng".

"Karena memang banyak misteri yang belum terungkap," kata Eri. Selama ini ada anggapan bahwa keberadaan candi-candi dan struktur lainnya di Dieng hanya sebatas untuk kegiatan keagamaan.

Namun Eri menduga ada kegiatan lain yang bisa dilacak lebih lanjut di kawasan Dieng.

"Jadi aktivitasnya tidak hanya ritual atau pemujaan keagamaan, mungkin juga di situ ada aktivitas kehidupan lain. Itu jejak yang masih belum ketemu," jelasnya.

Mengapa di masa lalu dataran tinggi Dieng disebut lokasi ritual keagamaan?

Kemungkinan bahwa keberadaan candi-candi di dataran tinggi Dieng merupakan lokasi ritual keagamaan, memang sudah disepakati para ahli.

Staf pengajar arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Djaliati Sri Nugrahani, meyakini kompleks candi Dieng kemungkinan merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Hindu, dan bukan pusat kerajaan.

Dia merujuk pada prasasti Kapunuhan yang dibuat pada tahun 878, yang menyebut Dieng adalah Kailasa.

"Kailasa merupakan puncak gunung suci di Himalaya, tempat tinggal Syiwa. Dieng adalah Kailasa, sehingga Dieng merupakan tempat surganya atau tempat tinggalnya Syiwa.

"Tampaknya memang Dieng merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa," jelas Djaliati kepada wartawan Lilik Darmawan.

Djaliati adalah salah seorang arkeolog yang terlibat secara intensif dalam penelitian terkait komplek candi Dieng.

Kapan kompleks candi di Dieng mulai dibangun?

Kompleks candi peninggalan peradaban Hindu beraliran Syiwa di dataran tinggi Dieng diungkap pertama kali di masa kolonial Belanda diawal abad 19.

Catatan awal di masa kolonial Hindia Belanda menyebutkan ada sekitar 400 bangunan candi dan situs bersejarah lainnya, namun kini yang ada setidaknya ada sembilan bangunan candi.

"Pada zaman [kolonial] Belanda, luasnya [komplek candi Dieng] mencapai 110 hektar (ha) dengan 400 situs yang ada," kata Aryadi.

"Tetapi sekarang luasannya juga menyusut hingga belasan hektar saja dan situsnya tinggal beberapa. Sudah banyak yang tidak ditemukan lagi," tambahnya.

Terbagi dalam beberapa kelompok, candi-candi itu diberi nama sesuai tokoh pewayangan, yang kebanyakan diambil dari epos Mahabharata.

"Kalau dari catatan Belanda, jumlah candi lebih banyak daripada sekarang," kata Djaliati Sri Nugrahani.

Diperkirakan bangunan candi itu rusak atau hilang, akibat perbuatan manusia atau faktor alam. "Sebagian (batunya) dimanfaatkan oleh masyarakat," ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari 22 prasasti, komplek candi Dieng kemungkinan dibangun antara abad ketujuh hingga 13 pada masa Mataram Kuno. "Ini mengindikasikan bahwa peradaban Dieng cukup panjang."

Mengapa seni bangunan candi-candi Dieng dipengaruhi India?

Secara kronologis peradaban Dieng disebut "cukup tua" dan awal pengaruh India dapat dilihat dari seni bangunan di wilayah itu, kata Djaliati.

"Kami menggambarkan seni bangunannya, bahwa dekat dengan India," ujarnya.

Artinya, para arsitek di kawasan Dieng belum memiliki kebebasan untuk membangun candi-candi sesuai pengetahuan tentang seni bangunan mereka sendiri.

Hal ini berbeda dari struktur bangunan candi lain di luar Dieng yang dibangun belakangan, yang disebut Djaliati, para arsitekturnya sudah mampu "mengelaborasi bangunan".

"Tapi kalau di Dieng masih sangat dekat dengan India," ungkapnya.

Menurut Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto, salah-satu candi di kawasan Dieng yang mirip dengan arsitektur India adalah candi Bima.

"Sehingga ada indikasi pemuka agama Hindu dari India datang ke Dieng," katanya

Apa bukti yang menguatkan indikasi Dieng juga pusat pendidikan keagamaan?

Berbagai temuan terbaru di kawasan Dieng diharapkan akan menguatkan indikasi awal bahwa peninggalan kompleks candi tertua di Jawa Tengah itu juga merupakan lokasi pendidikan di bidang keagamaan.

Indikasi ini didasarkan analisa terhadap keberadaan situs fondasi struktur bangunan yang disebut dharmasala.

Sejumlah catatan menyebutkan fondasi bangunan dharmasala ditemukan tersebar di sekitar kawasan candi Dieng.

Para peneliti meyakini, bangunan dharmasala ini dulu berupa bangunan bertiang kayu tanpa dinding alias terbuka.

"Dharmasala ini diperkirakan memiliki bentuk rumah panggung dan untuk tempat menginap, sebelum melakukan ritual atau sebagai tempat singgah sementara sebelum upacara keagamaan," kata Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto.

"Tetapi karena data-data tertulis belum ada, maka kita masih menduga-duga fungsinya," tambahnya.

Luas dharmasala, menurutnya, lebarnya sekitar antara delapan hingga 10 meter dan panjangnya mencapai 40 meter.

"Bangunan dharmasala [di Dieng] kita rekonstruksi dengan mengacu relief di Candi Borobudur,"ujar Eri.

Hasil rekonstruksi tim arkeologi, menurut Djaliati Sri Nugrahani, menyebutkan bahwa dharmasala merupakan tempat "kegiatan para siswa untuk menyiapkan ritual keagamaan di bangunan candi".

Selain itu, menurutnya, di kawasan Dieng juga ada lokasi pertapaan dan pusat-pusat kajian, terutama tempat pemujan terhadap Dewa Syiwa.

"Ada tempat-tempat sekolah keagamaan. Jadi ada resi yang tinggal di situ, dan punya murid-murid," katanya.

Prasasti berangka tahun 809, yaitu prasasti Kuti yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, juga menyebutkan bahwa Dieng sebagai pusat kegiatan religius, juga didukung komunitas yang tinggal di desa perdikan.

"Di sekitar [tempat suci], ada komunitas yang mendukungnya... Jadi di situ ada penduduknya, yang sebagian aktivitasnya digunakan untuk mendukung bangunan suci," papar Djaliati.

Adapun Aryadi Darwanto menganalisa, selain pusat pendidikan agama, keberadaan kompleks candi Dieng, kemungkinan sebagai tempat belajar arsitektur.

"Saat sekarang, seluruh candi tidak ada arsitektur yang sama. Bahkan, dari sembilan candi yang ada dan menjadi 10 (Candi Kunthi, yang baru ditemukan), bentuknya tidak sama.

"Ini ada indikasi sebagai pusat belajar arsitektur," katanya, menganalisa.

Bagaimana upaya perlindungan situs bersejarah Dieng?

Di hadapkan perubahan tata lahan di sekitar di kawasan situs bersejarah Dieng, seperti perluasan ladang kentang serta turisme, Djaliati Sri Nugrahani mengharapkan agar hal itu tidak merusak situs Dieng.

"Tidak berarti kami menempatkan bangunan candi ataupun heritage itu dalam 'lemari kaca', kita juga harus mengakomodasi kepentingan masyarakat," katanya.

"Tapi mbok monggo, baik masyarakat atau pemerintah, untuk melihat fungsi dan perananan Dieng itu seperti apa," tambah Djaliati.

"Tentu saja, kami tidak melarang masyarakat berperan aktif dalam kegiatan budaya yang ada di Dieng, tetapi mari kita pilih-pilih kegiatan budaya di situs Dieng.

"Sehingga kalau steril, maka masuk ke kompleks candi sebagai tempat pemujaan akan merasakan auranya, sejuk, tenteram, damai," katanya.

Sementara, petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dieng, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Banjarnegara, yang juga arkeolog, Aryadi Darwanto, mengaku masih memiliki keinginan untuk terus meneliti masa lalu Dieng.

"Tapi karena keterbatasan tenaga dan dana dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, saya kira tidak mungkin untuk mengungkap secara keseluruhan Dieng," ungkapnya.

Adapun, sebagai pelestari, Koordinator Unit Dieng BPCB Jawa Tengah, Eri Budiarto, mengaku bersyukur atas apresiasi masyarakat yang terus membaik terhadap upaya pelestarian Cagar Budaya Dieng.

"Alhamdulillah, semakin ke sini, masyarakat pengertian, apresiasi tinggi bagi warga. Sebab, kalau ada penemuan langsung melaporkan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Funiculi Funicula 2, Novel yang Mengajarkan Arti Melepaskan dan Menerima

Funiculi Funicula 2, Novel yang Mengajarkan Arti Melepaskan dan Menerima

Your Say | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:45 WIB

Lebih Dekat dengan Sang Pencipta dalam Syahdu-nya Seni Merayu Tuhan

Lebih Dekat dengan Sang Pencipta dalam Syahdu-nya Seni Merayu Tuhan

Your Say | Senin, 11 Mei 2026 | 20:15 WIB

Ramai di Medsos, Kiesha Alvaro Luruskan Narasi Soal Keterkaitan dengan Agama Lain

Ramai di Medsos, Kiesha Alvaro Luruskan Narasi Soal Keterkaitan dengan Agama Lain

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 16:41 WIB

Review Vermilion Rain: Perpaduan Sains, Bencana, dan Teror Psikologis yang Seru

Review Vermilion Rain: Perpaduan Sains, Bencana, dan Teror Psikologis yang Seru

Your Say | Senin, 11 Mei 2026 | 12:20 WIB

Dinamika Tukar Raga dan Misteri Itomori dalam Your Name karya Makoto Shinkai

Dinamika Tukar Raga dan Misteri Itomori dalam Your Name karya Makoto Shinkai

Your Say | Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:00 WIB

Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang

Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang

Your Say | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:20 WIB

Eksplorasi Budaya dan Misteri dalam Tingka Buku 1

Eksplorasi Budaya dan Misteri dalam Tingka Buku 1

Your Say | Kamis, 07 Mei 2026 | 11:35 WIB

Simfoni Kejanggalan dalam Denah: Menyingkap Rahasia Rumah Aneh

Simfoni Kejanggalan dalam Denah: Menyingkap Rahasia Rumah Aneh

Your Say | Rabu, 06 Mei 2026 | 12:45 WIB

Sertifikat Mualaf Itu Apa? Ini Lembaga yang Berhak Mengeluarkannya

Sertifikat Mualaf Itu Apa? Ini Lembaga yang Berhak Mengeluarkannya

Lifestyle | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:58 WIB

Kisah Nyata: Aa Korban Tumbal

Kisah Nyata: Aa Korban Tumbal

Your Say | Selasa, 05 Mei 2026 | 13:50 WIB

Terkini

Tren Audio Open-Ear Makin Populer, HAKII Resmi Hadir di Indonesia lewat Blibli

Tren Audio Open-Ear Makin Populer, HAKII Resmi Hadir di Indonesia lewat Blibli

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 21:56 WIB

Huawei Watch FIT 5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Punya Fitur Deteksi Risiko Diabetes dan ECG

Huawei Watch FIT 5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Punya Fitur Deteksi Risiko Diabetes dan ECG

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:27 WIB

25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 12 Mei 2026: Bocoran Kehadiran Samuel Eto'o

25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 12 Mei 2026: Bocoran Kehadiran Samuel Eto'o

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:10 WIB

33 Kode Redeem FF Terbaru 12 Mei 2026: Buruan Ambil MP40 Cobra dan Jajal Fitur Kuda

33 Kode Redeem FF Terbaru 12 Mei 2026: Buruan Ambil MP40 Cobra dan Jajal Fitur Kuda

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 19:50 WIB

5 Rekomendasi Tablet Layar OLED, Visual Mantap untuk Kerja dan Gaming

5 Rekomendasi Tablet Layar OLED, Visual Mantap untuk Kerja dan Gaming

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 18:01 WIB

Samsung Galaxy A27 Segera Hadir, Snapdragon Bakal Gantikan Exynos?

Samsung Galaxy A27 Segera Hadir, Snapdragon Bakal Gantikan Exynos?

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:30 WIB

Realme 16T 5G Debut Pekan Depan, Usung Baterai Jumbo 8.000 mAh

Realme 16T 5G Debut Pekan Depan, Usung Baterai Jumbo 8.000 mAh

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:05 WIB

Heboh DM Instagram Disebut Tak Lagi Aman, Pakar Siber Ungkap Faktanya soal Enkripsi

Heboh DM Instagram Disebut Tak Lagi Aman, Pakar Siber Ungkap Faktanya soal Enkripsi

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:45 WIB

Kumpulan Prompt AI Edit Foto Masa Kecil vs Masa Kini, Hasil Estetik dan Emosional

Kumpulan Prompt AI Edit Foto Masa Kecil vs Masa Kini, Hasil Estetik dan Emosional

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:18 WIB

Lawan Berat Redmi dan Honor: Huawei Siapkan HP Baru Baterai 10.000 mAh+

Lawan Berat Redmi dan Honor: Huawei Siapkan HP Baru Baterai 10.000 mAh+

Tekno | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:15 WIB