Terungkap, Ini Alasan Vaksin Covid-19 Rusia Diklaim Putin Sudah Disetujui

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Terungkap, Ini Alasan Vaksin Covid-19 Rusia Diklaim Putin Sudah Disetujui
Presiden Rusia Vladimir Putin memimpin pertemuan dengan anggota pemerintah melalui panggilan telekonferensi di Moskow, Rusia, Selasa 11 Agustus 2020. [Foto/AFP]

Dokumen resmi Rusia mengungkapkan bahwa vaksin virus Corona (Covid-19), yang sebelumnya diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah disetujui.

Suara.com - Dokumen resmi Rusia mengungkapkan bahwa vaksin virus Corona (Covid-19), yang sebelumnya diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah disetujui, setelah melakukan pengujian hanya pada 38 orang.

Putin mengumumkan bahwa vaksin yang dikembangkan secara lokal untuk melawan virus Corona, telah mendapat persetujuan setelah hanya dua bulan uji coba dan distribusi massal akan dimulai pada Oktober.

Pengumuman Putin disusul pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa pembicaraan sedang berlangsung dengan pihak berwenang Rusia untuk melakukan peninjauan vaksin, yang disebut Sputnik V, di tengah kekhawatiran bahwa para ilmuwan tidak mematuhi pedoman internasional.

Menurut kantor berita Rusia Fontanka, vaksin itu disetujui hanya dalam 42 hari penelitian dan keefektifannya pun disebut tidak diketahui.

Peneliti menunjukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]
Peneliti menunjukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Terlepas dari klaim Putin bahwa vaksin tersebut telah lulus semua tes yang diperlukan, salah satu dokumen yang diajukan untuk pendaftaran menyatakan bahwa tidak ada studi klinis dalam mempelajari keefektifan epidemiologi.

Salah satu anak perempuan Putin sendiri telah mendapatkan vaksin tersebut dan Presiden Rusia mengklaim bahwa putrinya telah mulai mengembangkan antibodi, serta tidak mengalami efek samping selain suhu tubuh yang tinggi.

Namun, Fontanka mengklaim bahwa vaksin tersebut memerlukan daftar panjang potensi efek samping yang sering terjadi. Efek samping ini termasuk pembengkakan, nyeri, hipertermia, dan gatal di bekas tempat suntikan.

"Tidak mungkin untuk menentukan efek samping secara lebih akurat karena sampel peserta penilitian yang terbatas," kata Gamaleya Research Institute yang memproduksi vaksin, seperti dikutip Extra, Kamis (13/8/2020).

Dilaporkan bahwa 144 efek samping berbeda, dicatat antara 38 relawan yang berpartisipasi dalam uji klinis. Vaksin tersebut tidak akan diberikan kepada orang yang berusia di bawah 18 tahun atau di atas 60 tahun, karena kurangnya penelitian saat ini. Perempuan hamil atau menyusui juga disarankan untuk tidak menggunakan obat tersebut.

Vaksin harus digunakan dengan hati-hati untuk orang-orang yang memiliki berbagai kondisi medis, termasuk penyakit kronis pada ginjal, hati, diabetes, epilepsi, penyakit sistem kardiovaskular, dedisiensi imun, penyakit imun, reaksi alergi, atopi, dan eksim.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS