Ilmuwan Kembangkan Rekayasa Genetika Hewan Ternak

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Ilmuwan Kembangkan Rekayasa Genetika Hewan Ternak
Ilustrasi ilmuwan. [Pixabay/felixioncool]

Para ilmuwan menggunakan sperma buatan bernama CRISPR-Cas9, berfungsi sebagai pejantan pengganti.

Suara.com - Para ilmuwan telah 'menciptakan' babi, kambing, dan sapi melalui rekayasa genetika untuk menghasilkan hewan yang tahan penyakit dan memiliki kualitas daging lebih tinggi.

Para ilmuwan Washington State University di Amerika Serikat mengungkapkan, penelitian ini diharapkan menjadi langkah untuk menuju peningkatan genetik ternak dan meningkatkan produksi pangan.

Untuk melaksanakan tugasnya, para ilmuwan menggunakan sperma buatan bernama CRISPR-Cas9, berfungsi sebagai pejantan pengganti. Selanjutnya, sperma tersebut disuntikkan ke dalam sel telur hewan betina.

Proses tersebut dapat membantu peternak memelihara hewan yang lebih sehat dan produktif dengan menggunakan lebih sedikit sumber daya seperti pakan, obat-obatan, dan air.

Dolly domba hasil kloning. [AFP]
Dolly domba hasil kloning. [AFP]

Selain itu, para ilmuwan juga mengatakan bahwa cara ini memungkinkan para peternak untuk mengembangbiakan hewan ternak bermutu tinggi.

“Dengan teknologi ini, kita bisa mendapatkan penyebaran (hewan ternak) yang lebih baik dengan karakter yang diinginkan dan juga bisa meningkatkan efisiensi produksi makanan,” kata Jon Oatley, seorang ahli biologi reproduksi yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari New York Post, Rabu (16/9/2020).

Dia mengatakan bahwa penelitian ini diharapkan dapat membawa dampak besar untik mengatasi kerawanan pangan di seluruh dunia.

“Jika kita bisa mengatasi ini (kekurangan pangan) secara genetik, itu berarti hewan ternak yang dipelihara lebih sedikit membutuhkan air, lebih sedikit pakan dan lebih sedikit antibiotik yang harus kita berikan ke hewan," imbuhnya.

Meski begitu, penelitian rekayasa genetika terhadal hewan mendapatkan pengeditan gen telah lama menjadi subjek perlawanan dari para aktivis lingkungan hidup yang menilai penelitian tersebut berbahaya karena merusak alam.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS