alexametrics

Bukan Smartphone, Dua Hal Ini Jadi Incaran Hacker Sekarang

Dythia Novianty
Bukan Smartphone, Dua Hal Ini Jadi Incaran Hacker Sekarang
Ilustrasi hackers. [Shutterstock]

Secara khusus, Kaspersky mencatat pergeseran target pelaku kejahatan siber.

Suara.com - Secara khusus, Kaspersky mencatat pergeseran target pelaku kejahatan siber. Tadinya ponsel cerdas dan perangkat pribadi, kini sistem kontrol industri (ICS) dan Internet of Things (IoT).

Kaspersky juga berbagi perspektif sektor swasta untuk mengatasi tantangan dalam membangun transformasi digital yang memiliki kekokohan dan keamanan siber di Asia Pasifik.

"Di satu sisi, orang-orang berisiko lebih besar mengalami ancaman dunia maya karena mereka bekerja dari jarak jauh dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk online. Di sisi lain, ada lebih banyak pelaku kejahatan siber, dan mereka semakin terampil dan berpengalaman," ujar CEO di Kaspersky, Eugene Kaspersky dalam virtual press conference, Selasa (2/3/2021).

Pada 2020, Kaspersky melihat deteksi file berbahaya yang unik meningkat 20 hingga 25 persen sehari.

Baca Juga: Atasi Ancaman Siber di Indonesia, BSSN Libatkan Quad Helix

"Hari ini, peneliti kami juga memantau dengan cermat lebih dari 200 grup aktor ancaman dunia maya yang bertanggung jawab atas serangan yang sangat ditargetkan terhadap bank, pemerintah, atau infrastruktur penting negara,” ungkapnya.

Nguyen Huy Dung, Wakil Menteri Kementerian Informasi dan Komunikasi Vietnam (MIC), berbagi tentang bagaimana negara tersebut telah melakukan langkah-langkah aktif untuk mengamankan ruang sibernya, yang mencakup penetapan undang-undang, standar, dan cetak biru keamanan siber nasional di seluruh organisasi pemerintah dan swasta.

Kaspersky Asia Pacific Online Policy Forum, Selasa (2/3/2021). [Screenshot/Dythia Novianty]
Kaspersky Asia Pacific Online Policy Forum, Selasa (2/3/2021). [Screenshot/Dythia Novianty]

“Tidak ada yang bisa mengatasi ancaman dunia maya sendirian. Tidak ada yang bisa aman sendirian, ” tegas Dung.

Dia menyoroti model perlindungan empat lapis di Vietnam yang melibatkan tim internal (lapis pertama), layanan keamanan siber 24/7 oleh penyedia profesional (lapis kedua), audit keamanan independen (lapis ketiga), dan pemantauan independen oleh Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) Otoritas Keamanan Informasi, Kementerian Informasi dan Komunikasi (lapisan ke-4).

Sementara itu, Greg Austin, Profesor Keamanan Siber, Strategi, dan Diplomasi di Universitas New South Wales, menggarisbawahi hubungan penting antara pembangunan kapasitas keamanan siber dan investasi dalam pendidikan.

Baca Juga: Data Pribadi Milik Puluhan Juta Pengguna 3 VPN Ini Bocor dan Dijual Online

“Secara global kita belum menghasilkan cukup profesional keamanan siber,” kata Dr. Austin.

Komentar