alexametrics

Fosil Penguin Raksasa Ditemukan Anak-anak di Selandia Baru

RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Fosil Penguin Raksasa Ditemukan Anak-anak di Selandia Baru
Ilustrasi penguin di masa sekarang (Shutterstock)

Fosil terancam rusak oleh erosi air laut, kini diberikan kepada Museum Waikato.

Suara.com - Sebuah fosil penguin raksasa yang hidup antara 27 juta hingga 35 juta tahun yang lalu ditemukan oleh kelompok pemburu fosil anak-anak untuk usia 10-18 tahun di Selandia Baru.

Fosil burung penyelam raksasa itu memiliki tinggi sekitar 1,4 m dan kaki serta paruh yang sangat panjang untuk seekor penguin.

Kerangka tersebut pertama kali ditemukan pada 2006 oleh klub sejarah alam di Hamilton, Selandia Baru, yang disebut Hamilton Junior Naturalist Club (JUNATS).

Anak-anak yang dipimpin oleh ahli fosil Chris Templer menemukan tulang belulang raksasa yang telah punah di semenanjung kecil di Pelabuhan Kawhia selama kunjungan lapangan.

Baca Juga: Penelitian: Long Covid pada Anak Biasanya Tak Lebih dari 12 Minggu

Penguin raksasa, Kairuku waewaeroa [Image credit: Simone Giovanardi, Livescience]
Penguin raksasa, Kairuku waewaeroa [Image credit: Simone Giovanardi, Livescience]

Menurut para ilmuwan dalam studi baru, itu adalah fosil penguin raksasa terlengkap yang pernah ditemukan. Fosil tersebut kini diberi nama Kairuku waewaeroa, di mana "waewae" berarti kaki dan "roa" berarti panjang dalam bahasa Maori karena kerangka yang memiliki tulang kaki belakang sangat panjang.

Saat ini, spesies penguin terbesar yang masih hidup adalah penguin kaisar (Aptenodytes forsteri) dengan tinggi mencapai 1,2 m dan bobot hingga 45 kg.

Ketika anak-anak tersebut menemukan fosil itu, kerangka tersebut mencuat dari balok batu pasir dan sempat dikira sebagai baling-baling berkarat. Namun, Templer dan ahli lainnya, Tony Lorimer, segera menyadari bahwa itu adalah fosil punah yang luar biasa.

"Saat itu kami sedang mencari fosil bulu babi, tapi yang kami temuan adalah seekor penguin," kata Templer, seperti dikutip dari Live Science pada Jumat (17/9/2021).

Namun, fosil tersebut terancam rusak oleh erosi air laut. Pejabat setempat mengizinkan penggalian fosil dilakukan pada 2018. Kerangka itu kemudian diberikan ke Museum Waikato.

Baca Juga: Gawat! Penguin Kaisar di Ambang Kepunahan Abad Ini

Dari sana, para ilmuwan lainnya mengukur dan memindai kerangka serta membuat rekonstruksi model 3D penguin. Para ahli membandingkan tulang penguin dengan penguin raksasa lainnya dari periode Paleogen.

Analisis menunjukkan bahwa kaki penguin yang lebih panjang berperan dalam membantu kinerja penguin di dalam air sehingga berenang lebih cepat atau menyelam lebih dalam.

Komentar