facebook

Tarik Menarik antara Bumi, Bulan, dan Matahari Bisa Picu Pergerakan Lempeng Tektonik

Dythia Novianty
Tarik Menarik antara Bumi, Bulan, dan Matahari Bisa Picu Pergerakan Lempeng Tektonik
Ilustrasi bintang dan planet-planet di luar angkasa (Shutterstock).

Lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi yang kaku selalu bergerak, memengaruhi kehidupan di planet kita dengan berbagai cara.

Suara.com - Lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi yang kaku selalu bergerak, memengaruhi kehidupan di planet kita dengan berbagai cara.

Lempeng-lempeng besar ini mungkin bergerak lambat, tetapi mereka menciptakan banyak fitur topografi unik Bumi.

Seperti pegunungan, jurang, pulau-pulau individual, kepulauan, dan palung laut, semuanya dalam skala benua.

Namun, gempa bumi, gunung berapi, dan tsunami, semuanya juga merupakan hasil dari aliran litosfer yang konstan dari kerak berbatu dan bagian atas mantel yang padat.

Baca Juga: Inilah 4 Peran Penting Keberadaan Ekosistem Laut di Muka Bumi

Lempeng tektonik rata-rata dapat bergerak sekitar 40mm per tahun.

Sedangkan yang tercepat, Lempeng Nazca di barat Amerika Selatan, bergerak sekitar 160mm per tahun.

Ilustrasi gempa bumi, pengertian gempa bumi (www.pexels.com)
Ilustrasi gempa bumi, pengertian gempa bumi (www.pexels.com)

Konsensus utama mengenai apa yang mendorong pergerakan lempeng telah lama menetap pada arus konveksi di dalam mantel bumi.

Teorinya adalah pergerakan sejumlah besar energi panas menyeret lempeng dari bawah.

Tetapi sebuah studi baru oleh para ilmuwan di Universitas Washington di St Louis mengusulkan, tidak ada cukup energi di dalam Bumi yang dibutuhkan untuk menggerakkan lempeng tektonik.

Baca Juga: NASA Deteksi Ledakan Baru Matahari, Tidak Ada Ancaman Bagi Bumi

Sebaliknya, gaya gravitasi yang tidak seimbang antara Bumi, Bulan, dan Matahari bersama-sama mendorong sirkulasi keseluruhan mantel.

Para peneliti mengatakan, lempeng Bumi mungkin bergeser karena Matahari memberikan tarikan gravitasi yang begitu kuat di Bulan.

Hal ini menyebabkan orbit Bulan di sekitar Bumi menjadi memanjang.

Seiring waktu, posisi "barycentre", atau pusat massa antara benda-benda yang mengorbit Bumi dan Bulan, telah bergerak lebih dekat ke permukaan Bumi.

Sekarang berosilasi 600km per bulan relatif terhadap geocenter (pusat Bumi), kata para ilmuwan.
Ini menimbulkan tekanan internal saat Bumi terus berputar.

“Karena barycentre berosilasi terletak sekitar 4.600 km dari geocentre, percepatan orbital tangensial Bumi dan tarikan matahari tidak seimbang kecuali di barycentre,” kata Profesor Anne Hofmeister, yang memimpin penelitian.

“Lapisan interior planet yang hangat, tebal, dan kuat dapat menahan tekanan ini, tetapi litosfernya yang tipis, dingin, dan rapuh merespons dengan retakan.”

Ilustrasi Bulan. [Ponciano/Pixabay]
Ilustrasi Bulan. [Ponciano/Pixabay]

Selanjutnya, penulis berpendapat bahwa putaran harian Bumi, yang meratakan planet dari bentuk bola yang sempurna, berkontribusi pada kegagalan rapuh litosfer ini.

Kedua tekanan independen ini menciptakan mosaik pelat yang diamati di kulit terluar, saran penulis.

Variasi gerakan lempeng berasal dari perubahan ukuran dan arah gaya gravitasi yang tidak seimbang dengan waktu.

Sulit bagi para peneliti untuk menguji teori ini. Mereka menyarankan pemeriksaan lebih dekat kerak Pluto, dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang bagaimana lempeng tektonik merespons gaya gravitasi.

"Satu tes akan menjadi pemeriksaan rinci dari tektonik Pluto, yang terlalu kecil dan dingin untuk konveksi tetapi memiliki bulan raksasa dan permukaan yang sangat muda," kata Profesor Hofmeister.

Studi ini juga mencakup perbandingan planet berbatu yang menunjukkan bahwa keberadaan dan umur panjang vulkanisme dan tektonisme.

Hal ini bergantung pada kombinasi tertentu dari ukuran bulan, orientasi orbit bulan, kedekatan dengan Matahari dan kecepatan putaran dan pendinginan tubuh.

Bumi adalah satu-satunya planet berbatu dengan semua faktor yang dibutuhkan untuk lempeng tektonik, kata Profesor Hofmeister.

Ilustrasi Planet Pluto. [Shutterstock]
Ilustrasi Planet Pluto. [Shutterstock]

“Bulan besar kita yang unik dan jarak tertentu dari Matahari sangat penting,” tambahnya dilansir laman Independent, Selasa (25/1/2022).

Penelitian ini diterbitkan oleh Geological Society of America.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar