Tantangan Esports di Indonesia adalah Stigma Negatif Orang Tua

Kamis, 24 Maret 2022 | 19:49 WIB
Tantangan Esports di Indonesia adalah Stigma Negatif Orang Tua
Orang tua masih melihat esports cuma sebagai bermain game biasa. Foto: Timnas eSports Indonesia berdoa bersama sebelum bertanding pada ekshibisi eSports cabang permainan Arena of Valor (AOV) Asian Games ke-18 di Britama Arena, Jakarta, Minggu (26/8) [ANTARA FOTO/INASGOC/Dhemas Reviyanto].

Suara.com - Senior Vice President UniPin Community, Debora Imanuella mengaku kalau tantangan perkembangan esports di Indonesia berasal dari kalangan orang tua. Alasannya, mereka masih memiliki stigma negatif tentang game.

"Tantangan esports di Indonesia adalah orang tua, karena stigma mereka masih negatif terkait game," kata Debora dalam konferensi pers virtual, Kamis (24/3/2022).

Ia menyebut kalau banyak orang tua menilai esports di Indonesia adalah sekadar main game. Padahal, katanya, esports tidak sesempit itu.

Untuk itulah, UniPin terus melakukan edukasi ke komunitasnya yang dikenal sebagai UNITY. Menurutnya, main game juga harus memiliki sebuah tujuan.

"Kami terus mengedukasi bahwa main game itu harus punya tujuan. Entah itu menjadi atlet, bekerja di balik layar, dan lainnya. Sebab dari game, anak-anak bisa sukses, bisa cari uang sendiri, punya jiwa kompetitif, dan lainnya," terang Debora.

Senada dengan Debora, Ajeng Raviando selaku Psikolog juga menyebut hal serupa. Menurutnya, banyak orang tua yang masih belum mengerti terkait sesuatu yang positif dari esports ataupun game yang dimainkan anaknya.

Alasan utamanya adalah kesenjangan generasi. Faktor lainnya adalah munculnya pandemi yang membuat aktivitas kini beralih ke online.

"Misal orang tua itu dari generasi X, punya anak generasi Z. Mereka kadang tidak paham apa yang anak-anaknya lakukan. Orang tua seringkali memiliki stigma negatif terkait aktivitas anaknya. Padahal selama pandemi, anak-anak beraktivitas online seperti pendidikan, belajar bersama teman-teman, semua lewat online," kata dia di sesi terpisah.

"Contohnya esports, dinilai buang-buang waktu, tidak produktif. Itu dinilai hanya dikarenakan anak-anak kita berada di depan layar gadget," sambung Ajeng.

Baca Juga: Ikuti Tren, Berikut 10 Klub Sepak Bola Top Dunia yang Bikin Tim Esports

Untuk itulah, stigma negatif terkait esports masih perlu dibenahi. Dengan demikian, aktivitas anak-anak di ranah tersebut bisa jadi sesuatu yang baik.

"Kalau orang tua tidak diedukasi esports itu apa, maka mereka akan menyimpulkan kalau esports adalah game saja. Padahal esports adalah kompetisi, analisa yang baik, kerja sama tim, melatih kemampuan strategi, dan pengambilan keputusan," jelas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI