Perubahan Iklim dan Letusan Gunung Jadi Penyebab Punahnya Hobbit Flores

Ruth Meliana | Suara.com

Rabu, 10 Desember 2025 | 13:47 WIB
Perubahan Iklim dan Letusan Gunung Jadi Penyebab Punahnya Hobbit Flores
Rekonstruksi Homo floresiensis, yang dijuluki "Hobbit" asal Flores (Live Science)

Suara.com - Sebuah penelitian terbaru kembali membuka pembahasan mengenai salah satu misteri terbesar dalam paleoantropologi Indonesia: alasan kepunahan Homo floresiensis, spesies manusia purba berpostur kecil yang dijuluki “hobbit”. 

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment ini mengungkap bahwa perubahan iklim ekstrem, penurunan curah hujan, serta letusan gunung berapi besar kemungkinan menjadi faktor utama hilangnya spesies tersebut sekitar 50.000 tahun lalu.

Homo floresiensis pertama kali ditemukan di Liang Bua, sebuah gua di Pulau Flores, dan diumumkan pada 2004. Sejak itu, para ilmuwan terus berusaha menjawab dua pertanyaan besar: bagaimana mereka hidup, dan apa penyebab hilangnya spesies unik ini. Temuan baru memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi lingkungan yang mereka hadapi menjelang kepunahan.

Mengutip dari Live Science (8/12/2025), berdasarkan analisis terhadap stalagmit dari Liang Luar—gua yang berlokasi dekat Liang Bua—para peneliti menemukan bahwa curah hujan di Flores mengalami penurunan drastis antara 76.000 hingga 50.000 tahun lalu. 

Stalagmit dipilih sebagai sumber data karena pertumbuhannya merekam perubahan komposisi mineral akibat variasi air. Ketika curah hujan rendah, pertumbuhan stalagmit melambat dan kandungan magnesium di dalamnya meningkat.

Data menunjukkan bahwa curah hujan tahunan turun dari sekitar 1.560 mm menjadi 990 mm, dan kondisi tersebut bertahan hingga 50.000 tahun lalu. Situasi ini mengakibatkan perubahan besar pada ekosistem pulau kecil seperti Flores, yang bergantung pada pasokan air stabil untuk mempertahankan populasi fauna.

Dampak terbesar dari penurunan curah hujan terlihat pada populasi Stegodon, kerabat gajah purba yang menjadi salah satu sumber makanan utama Homo floresiensis. Penelitian terhadap sisa-sisa gigi Stegodon menunjukkan bahwa hewan ini mulai menyusut populasinya sejak 61.000 tahun lalu dan akhirnya menghilang setelah letusan gunung berapi besar terjadi 50.000 tahun lalu.

Mengutip Live Science (8/12/2025), Nick Scroxton yang merupakan peneliti dari University College Dublin sekaligus salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa berkurangnya aliran sungai kemungkinan memaksa Stegodon bermigrasi ke wilayah pesisir untuk mencari sumber air yang lebih stabil. 

Homo floresiensis diperkirakan mengikuti jejak mangsanya menuju pesisir, bukan hanya untuk berburu, tetapi juga untuk bertahan hidup di tengah alam yang berubah.

Namun perpindahan ini kemungkinan membuat mereka bertemu dengan kelompok Homo sapiens yang saat itu mulai menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Pertemuan ini diduga memicu kompetisi perebutan sumber daya, bahkan mungkin konflik langsung. Dengan tubuh yang jauh lebih kecil dan teknologi sederhana, Homo floresiensis berada pada posisi yang kurang menguntungkan.

Selain perubahan iklim, studi tersebut juga menyoroti peran letusan gunung berapi besar di Flores sekitar 50.000 tahun lalu. Lapisan material vulkanik yang menyelimuti pulau dapat memusnahkan sisa vegetasi dan mengubah habitat dalam waktu singkat. Kombinasi letusan dan penurunan curah hujan menjadi tekanan ekologis yang sulit ditahan spesies kecil seperti Homo floresiensis.

Menurut Julien Louys, paleontolog dari Griffith University yang tidak terlibat dalam penelitian, pulau seperti Flores memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan lingkungan. Dengan ruang yang terbatas, hewan tidak dapat berpindah jauh untuk mencari habitat baru.

“Ketika kondisi memburuk, tempat berlindung yang tersisa bisa hilang atau terlalu sempit menampung semua satwa,” ujarnya, mengutip Live Science (8/12/2025). Situasi ini membuat persaingan antar spesies semakin ketat dan meningkatkan risiko kepunahan.

Debbie Argue, pakar paleoantropologi dari Australian National University, juga memuji penelitian ini karena memberikan rekonstruksi iklim yang lebih lengkap dibanding studi sebelumnya. Menurutnya, pemahaman tentang lingkungan masa lalu Flores sangat penting untuk mengetahui konteks kehidupan Homo floresiensis dan penyebab kepunahannya.

Seiring semakin banyaknya data paleoklimatologi dan temuan arkeologi, pandangan mengenai kepunahan “hobbit” Flores kini semakin mengarah pada kombinasi faktor—bukan satu penyebab tunggal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Perkuat Komitmen Perubahan Iklim, Pengelolaan Karbon Jadi Sorotan di CDC 2025

Pemerintah Perkuat Komitmen Perubahan Iklim, Pengelolaan Karbon Jadi Sorotan di CDC 2025

News | Jum'at, 05 Desember 2025 | 12:06 WIB

Nasib Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Cengkeraman Ekskavator

Nasib Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Cengkeraman Ekskavator

Your Say | Senin, 01 Desember 2025 | 14:50 WIB

Nasib Masyarakat Pesisir di Tengah Gelombang Ancaman Krisis Iklim

Nasib Masyarakat Pesisir di Tengah Gelombang Ancaman Krisis Iklim

Your Say | Senin, 01 Desember 2025 | 11:39 WIB

Terkini

Redmi Headphones Neo Muncul di Toko Online: Harga Kompetitif, Baterai Tahan 72 Jam

Redmi Headphones Neo Muncul di Toko Online: Harga Kompetitif, Baterai Tahan 72 Jam

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 19:35 WIB

4 Tablet Terbaru Pesaing iPad Mini April 2026: Performa Kencang, AnTuTu Tembus 4 Juta

4 Tablet Terbaru Pesaing iPad Mini April 2026: Performa Kencang, AnTuTu Tembus 4 Juta

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 19:05 WIB

Harga Terjun Bebas! Ini 7 HP Flagship yang Turun Harga Drastis di April 2026

Harga Terjun Bebas! Ini 7 HP Flagship yang Turun Harga Drastis di April 2026

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 18:58 WIB

76 Kode Redeem FF Max Terbaru 26 April 2026: Klaim Bundel Gintoki dan VSK94 Undersea

76 Kode Redeem FF Max Terbaru 26 April 2026: Klaim Bundel Gintoki dan VSK94 Undersea

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 18:05 WIB

iPhone 15 Bisa Dipakai sampai Tahun Berapa? Intip Harga Terbaru April 2026

iPhone 15 Bisa Dipakai sampai Tahun Berapa? Intip Harga Terbaru April 2026

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 17:00 WIB

Rincian Update Crimson Desert: Ada 3 Mode Baru dan Peningkatan Gameplay

Rincian Update Crimson Desert: Ada 3 Mode Baru dan Peningkatan Gameplay

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 16:35 WIB

HP Murah Realme C100 Series Bersiap ke Indonesia, Baterai Jumbo 7.000-8.000 mAh

HP Murah Realme C100 Series Bersiap ke Indonesia, Baterai Jumbo 7.000-8.000 mAh

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 16:15 WIB

Game Ragnarok Origin Classic Umumkan Update Sakura Vows, Ini Fitur Barunya

Game Ragnarok Origin Classic Umumkan Update Sakura Vows, Ini Fitur Barunya

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 16:06 WIB

Assassins Creed Black Flag Resynced Rilis Juli 2026, Hadirkan Mekanisme Anyar

Assassins Creed Black Flag Resynced Rilis Juli 2026, Hadirkan Mekanisme Anyar

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 15:35 WIB

Dimensity 7450 Series Debut: Dukung Kamera 200 MP, Perekaman 4K, dan Fitur Gaming

Dimensity 7450 Series Debut: Dukung Kamera 200 MP, Perekaman 4K, dan Fitur Gaming

Tekno | Minggu, 26 April 2026 | 14:31 WIB