- Riset Kaspersky menunjukkan AI mulai digunakan sebagai pendamping emosional, dengan 30% pengguna Indonesia memilihnya saat merasa sedih.
- Popularitas AI meningkat signifikan untuk perencanaan liburan, digunakan 74% responden global mencari resep hingga akomodasi.
- Ahli Kaspersky mengingatkan pentingnya skeptisisme terhadap saran AI dan menjaga privasi data sensitif dari potensi risiko.
“Seiring pesatnya perkembangan model LLM, kemampuan AI untuk terlibat dalam dialog yang terasa personal memang semakin meningkat,” ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Namun ia menegaskan bahwa AI tetap belajar dari data internet yang tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan dan bias.
“Sangat disarankan untuk menyikapi saran AI dengan skeptisisme yang sehat dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” tambahnya.
Kaspersky juga menekankan pentingnya memeriksa tautan yang dihasilkan chatbot AI karena berpotensi mengarah pada phishing atau konten berbahaya.
Penggunaan solusi keamanan siber berbasis AI dinilai penting untuk meminimalkan risiko tersebut.
Privasi Tetap Jadi Kunci
Meskipun percakapan dengan AI terasa pribadi, pengguna diingatkan bahwa sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan data masing-masing.
“AI mungkin terasa seperti teman yang aman untuk berbagi perasaan, tapi jangan lupa data tetaplah data,” ujar Tushkanov dalam keterangan resminya, Jumat (2/1/2026).
Karena itu, pengguna disarankan untuk meninjau kebijakan privasi sebelum menggunakan layanan AI, menghindari membagikan informasi sensitif atau finansial, dan memilih platform AI dari penyedia terpercaya.
Baca Juga: Bos Instagram Soroti Ledakan Konten AI dan Tantangan Membedakan Media Asli